BREAKING NEWS
Kamis, 13 Agustus 2026

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.878 per Dolar AS Saat Mata Uang Asia Menguat, Ada Apa?

Administrator - Kamis, 13 Agustus 2026 09:54 WIB
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.878 per Dolar AS Saat Mata Uang Asia Menguat, Ada Apa?
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Nilai tukar rupiah membuka perdagangan pada Kamis, 13 Agustus 2026, dengan pelemahan tipis.

Rupiah turun 0,02 persen ke level Rp17.878 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan rupiah terjadi ketika sejumlah mata uang Asia justru bergerak menguat.

Baca Juga:

Pada saat yang sama, harga minyak turun 1,12 persen menjadi US$87,98 per barel.

Sebagian besar mata uang kawasan Asia mempertahankan penguatan.

Dolar Taiwan menguat 0,24 persen, baht Thailand 0,21 persen, dan won Korea Selatan 0,18 persen.

Sementara itu, yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan Cina juga menguat, meski dalam level yang lebih terbatas.

Pelemahan tipis rupiah ketika mata uang kawasan menguat menunjukkan investor masih menyimpan kekhawatiran terhadap aset rupiah.

Kekhawatiran tersebut dapat berasal dari faktor domestik maupun persepsi risiko eksternal.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah arah kebijakan Bank Indonesia, terutama di tengah proses pergantian jajaran pimpinan bank sentral.

Investor masih mencermati nama-nama yang akan mengisi posisi dalam otoritas moneter Indonesia.

Kepastian bahwa pos Gubernur BI akan diisi oleh Destry Damayanti memang telah mengurangi ketidakpastian di pasar.

Namun, perhatian investor kini mulai bergeser kepada komposisi Dewan Gubernur BI secara lebih luas.

Presiden Prabowo Subianto mengusulkan dua nama untuk mengisi posisi Deputi Gubernur BI, yakni Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori.

Salah satu dari kedua nama tersebut nantinya akan menggantikan Aida S. Budiman yang diusulkan menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Pasar dinilai tidak hanya menunggu siapa yang akan memimpin Bank Indonesia.

Investor juga mencermati formasi kepemimpinan baru BI dan arah kebijakan yang akan dibawa ke depan.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kondisi eksternal yang belum sepenuhnya mereda.

Pasar energi masih dibayangi ketidakpastian konflik di Timur Tengah serta kebuntuan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi harga minyak dan pada akhirnya berdampak terhadap sentimen pasar keuangan.

Di sisi lain, terdapat sejumlah sentimen global yang sebenarnya memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Potensi kenaikan suku bunga The Fed semakin berkurang setelah inflasi AS melandai. Dolar AS dan harga minyak juga mengalami penurunan.

Meski demikian, rupiah dinilai masih memiliki peluang untuk menguat secara terbatas.

Investor tampaknya masih membutuhkan sentimen positif yang lebih kuat sebelum kembali meningkatkan minat terhadap aset rupiah.

Jika tekanan eksternal kembali meningkat, terutama akibat eskalasi konflik AS-Iran atau lonjakan harga minyak, rupiah berpotensi kembali menguji level Rp17.900 per dolar AS.* (bb/ad)

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Usulkan 4 Calon Pejabat BI, Ini Daftarnya
Harga Emas Antam Hari Ini 13 Agustus 2026 Naik, Tembus Rp2,7 Juta per Gram
Kejagung Bongkar Dugaan Transfer Pricing Toba Pulp Lestari, 2 Pegawai Pajak Jadi Tersangka
Maulid Nabi 1448 H Kapan? Simak Tanggal dan Makna Peringatannya
Polemik Patriot Bond: Perlindungan Investor dan Penelusuran Dana Ilegal Jadi Sorotan
Rakor Forkopimda Sumatera 2026, Bupati Asahan Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas dan Percepat Pembangunan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru