BREAKING NEWS
Jumat, 11 September 2026

Tertekan Risiko Fiskal dan Konflik Geopolitik, Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.547 per Dolar AS

Adelia Syafitri - Kamis, 10 September 2026 16:36 WIB
Tertekan Risiko Fiskal dan Konflik Geopolitik, Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.547 per Dolar AS
ilustrasi - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (10/9/2026). (Foto: KATADATA/FAUZA SYAHPUTRA)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.547 per dolar AS, turun 36 poin atau 0,21% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.511 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat melemah 0,10% ke level 98,721 pada pukul 15.00 WIB.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia. Kondisi tersebut dikhawatirkan meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah.

Baca Juga:

"Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target akan meningkat," ujar Ibrahim, Kamis (10/9/2026).

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG). Selain itu, harga impor minyak yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sehingga memberi tekanan terhadap rupiah.

Apabila pemerintah harus menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan inflasi sekaligus menekan daya beli masyarakat.

Pemerintah selama ini dapat memanfaatkan penyangga fiskal atau fiscal buffer, termasuk tambahan penerimaan dari ekspor komoditas, untuk menjaga kondisi anggaran. Namun, ketidakpastian pasar global membuat risiko terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadi perhatian.

Di tengah tekanan tersebut, sentimen konsumen pada Agustus disebut mencapai level tertinggi dalam tiga bulan. Kondisi tersebut didorong penguatan keuangan rumah tangga dan prospek ekonomi yang lebih baik.

Meski demikian, peningkatan konsumsi belum sepenuhnya ditopang kenaikan pendapatan masyarakat. Sebagian masyarakat masih menggunakan tabungan untuk menopang kebutuhan belanja.

Sentimen eksternal juga menjadi perhatian pasar. Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah sebelumnya sempat mereda. Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz, sementara AS mengklaim membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.

Kelompok Houthi yang didukung Iran juga disebut menyerang infrastruktur energi Arab Saudi. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Ketidakpastian geopolitik berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah. Pelaku pasar kini juga menanti sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Masih Tertekan, Dibuka Melemah ke Rp17.512 per Dolar AS
IHSG Ditutup Melemah 0,12% ke 6.678,20, Transaksi Capai Rp15,83 Triliun
Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.511 meski Harga Minyak Dunia Tembus US$100 di Tengah Panasnya Timur Tengah
Rupiah Menguat 0,37 Persen ke Rp17.567, Jadi Mata Uang Terkuat di Asia!
Ditopang Cadev US$ 146,5 Miliar, Rupiah Sanggup Lawan Dolar AS ke Rp 17.632
Awal Perdagangan Selasa, Rupiah Melemah ke Rp17.641 per Dolar AS
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru