Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Rupiah ditutup turun 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.611 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah salah satunya datang dari sentimen eksternal. Konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz, sementara AS menyatakan melakukan serangan balasan dengan menenggelamkan lima kapal tanker Iran.
"Serangan-serangan tersebut menandai pertempuran terparah dalam beberapa bulan terakhir dan mengindikasikan minimnya tanda-tanda penurunan eskalasi konflik yang kini telah memasuki bulan ketujuh," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga:
Kekhawatiran pasar juga meningkat akibat aktivitas kelompok Houthi di Yaman yang disebut dapat mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi global. Serangan di kawasan Bab el-Mandeb berpotensi menambah gangguan terhadap distribusi minyak mentah setelah Selat Hormuz.
Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar memperhitungkan premi risiko yang lebih tinggi terhadap harga minyak mentah. Harga minyak dunia yang meningkat kemudian turut memberikan tekanan terhadap negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia.
Dari Amerika Serikat, data Producer Price Index (PPI) pada Agustus 2026 tercatat naik 0,4% secara bulanan. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1% pada Juli.
Secara tahunan, inflasi produsen AS meningkat menjadi 5,4% dari sebelumnya 4,8% dan sedikit di atas perkiraan 5,3%. Inflasi produsen inti juga naik menjadi 4,6% dari 4,3%.
Data tersebut membuat peluang kebijakan suku bunga The Federal Reserve tetap menjadi perhatian pasar. Investor masih mencermati arah kebijakan moneter AS karena pergerakan suku bunga dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar mata uang negara berkembang.
Sementara dari dalam negeri, harga minyak mentah dunia yang telah menembus US$100 per barel menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia. Sebagai importir neto minyak, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor.
Kondisi itu berpotensi menekan rupiah sekaligus meningkatkan risiko inflasi barang impor. Di sisi fiskal, kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi apabila pemerintah mempertahankan harga BBM untuk menjaga daya beli masyarakat.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menciptakan dilema kebijakan bagi pemerintah. Kenaikan harga BBM dapat meningkatkan inflasi dan menekan daya beli, sementara mempertahankan subsidi berpotensi meningkatkan beban APBN.
Di sisi lain, Indonesia masih berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor seperti batu bara dan minyak kelapa sawit atau CPO. Namun, keuntungan tersebut dinilai belum tentu mampu sepenuhnya mengimbangi kenaikan biaya impor minyak.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.