BREAKING NEWS
Sabtu, 26 September 2026

Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Nurul - Sabtu, 26 September 2026 15:05 WIB
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir 2026.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Perkiraan tersebut disampaikan setelah posisi rupiah pada penutupan perdagangan 25 September 2026 berada di level Rp17.903 per dolar AS.

Baca Juga:

Secara mingguan, rupiah tercatat melemah 0,84 persen, sedangkan sejak awal tahun pelemahannya mencapai sekitar 6,7 persen.

Pada periode yang sama, indeks dolar AS tercatat menguat sekitar 0,9 persen dalam sepekan.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun masih berada di sekitar 5,16 persen.


Di dalam negeri, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun berada di sekitar 7,10 persen.

"Dengan posisi seperti ini, risiko Rupiah kembali menyentuh bahkan sesaat menembus Rp18.000 cukup tinggi dalam beberapa pekan ke depan," jelas Josua, Jumat (25/9/2026).

Meski rupiah menghadapi tekanan, Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang dapat digunakan sebagai salah satu instrumen stabilisasi nilai tukar.

Bank Indonesia tercatat memiliki cadangan devisa sekitar US$146,5 miliar.

Cadangan tersebut dapat digunakan antara lain untuk intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan imbal hasil instrumen moneter, serta pemberian insentif lindung nilai.

Bank sentral juga memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian suku bunga apabila diperlukan.

Dengan kondisi tersebut, bantalan stabilisasi rupiah dinilai masih tersedia di tengah tekanan dari pasar global.

Pergerakan harga minyak dunia juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.

Harga minyak Brent berada di sekitar US$105 per barel dan telah meningkat sekitar 72 persen sejak awal tahun.

Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian, termasuk melalui kebutuhan pembayaran impor energi.

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran membuka peluang normalisasi kondisi di kawasan Selat Hormuz.

Namun, proses negosiasi masih menghadapi ketidakpastian sehingga penurunan harga minyak belum dapat dianggap sebagai kondisi yang permanen.

"Oleh karena itu, berita negatif baru dari Timur Tengah dapat dengan cepat membawa minyak naik kembali dan mendorong Rupiah menguji Rp 18.000 per dolar AS," kata Josua.

Di tengah tekanan tersebut, rupiah justru ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat, 25 September 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.903 per dolar AS.

Posisi tersebut menguat 13 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan perdagangan Kamis, 24 September 2026, di level Rp17.916 per dolar AS.

Pada awal perdagangan Jumat, rupiah sempat melemah 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.935 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 15.00 WIB tercatat melemah 0,12 persen ke level 101,169.

Pelemahan indeks dolar tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk mengurangi tekanan dan berbalik menguat hingga penutupan perdagangan.* (km/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Harga Emas Antam Naik Lagi Hari Ini! Kini Tembus Rp2,613 Juta per Gram
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Menguat ke Level Rp 17.903 per Dolar AS di Tengah Gejolak Global
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.928 per Dolar AS, Ini Faktor yang Menekannya
IHSG Dibuka Menguat 0,28 Persen ke Level 6.316, Saham AMRT dan CUAN Naik
Harga Emas Antam Turun Lagi Rp15.000, Kini Jadi Rp2,59 Juta per Gram
Rupiah Terus Tertekan, Dibuka Turun 43 Poin ke Rp17.861 per Dolar AS
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru