BREAKING NEWS
Jumat, 09 Oktober 2026

Bangkit Kilat Pascabanjir: Pertamina EP Rantau Tajak 5 Sumur & Amankan 1.700 BPD Minyak

Dodi Kurniawan - Kamis, 08 Oktober 2026 21:05 WIB
Bangkit Kilat Pascabanjir: Pertamina EP Rantau Tajak 5 Sumur & Amankan 1.700 BPD Minyak
Pertamina EP Rantau Field tetap melakukan pengeboran sumur baru di tengah proses pemulihan pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

ACEH TAMIANG - Pertamina EP Rantau Field tetap melakukan pengeboran sumur baru di tengah proses pemulihan pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Hingga kini, sebanyak lima sumur telah ditajak untuk mendukung penemuan cadangan migas sekaligus menjaga produksi minyak dan gas nasional.

Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan perusahaan melakukan pemulihan secara bertahap setelah banjir menerjang wilayah kerja mereka. Dalam waktu sekitar empat bulan, produksi minyak disebut kembali stabil di angka 1.700 barel per hari.

"Kendati masih dalam situasi pemulihan pascabanjir, perusahaan melakukan pengeboran sumur untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi migas. Tajak sumur baru ini sangat penting bagi penyediaan energi nasional," ujar Tomi.

Baca Juga:

Dari lima sumur yang ditajak, dua di antaranya yakni RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 berada di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.

Kedua sumur tersebut dibor menggunakan Rig APS-752 berkapasitas 550 HP. Sumur RNT DZ-51 memiliki kedalaman akhir 1.145 meter measured depth (MMD), sedangkan RNT DZ-52 mencapai 1.037 MMD.

Tiga sumur lainnya, yakni RNT DZ-11, RNT DZ-23A dan RNT DZ-33, berada di Kampung Paya Meta, Kecamatan Karang Baru.

Sumur RNT DZ-11 dibor menggunakan Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP dengan kedalaman akhir 1.132 MMD. Sementara dua sumur lainnya masih dalam proses pengeboran.

Menurut Tomi, keberhasilan pengeboran lima sumur baru tersebut turut membantu mempertahankan produksi Pertamina EP Rantau Field. Langkah itu juga menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat ketahanan energi dan menggali potensi cadangan migas di Aceh Tamiang.

Pertamina EP Rantau Field merupakan bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1 dan menyatakan tetap menerapkan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dalam kegiatan operasi.

Tomi memastikan para pekerja di atas rig telah menjalani pelatihan wajib Health, Safety, Security and Environment (HSSE), termasuk Basic HSSE Training, Corporate Life Saving Rules (CLSR), Pertamina Well Control (PETROL), serta sertifikasi keahlian di bidang pengeboran.

"Kolaborasi bersama pihak kontraktor penyedia jasa rig serta dukungan penuh yang diberikan oleh SKK Migas menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menjaga ketahanan dan keberlanjutan energi nasional," katanya.

Sebelum melakukan tajak lima sumur baru, Pertamina EP Rantau Field menjalankan pemulihan pascabanjir dalam empat fase, yakni emergency, reactivation, recovery dan sustainability.

Tahapan tersebut mencakup penanganan keselamatan, perbaikan fasilitas hingga penguatan sistem operasional untuk jangka panjang.

"Tahap awal fokus pada kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, kesehatan dan listrik. Setelah kondisi sudah membaik, tim kemudian bergerak mengaktifkan fasilitas dan sumur-sumur produksi," ujar Tomi.

Salah satu tantangan utama dalam pemulihan adalah rusaknya fasilitas pembangkit dan High Pressure Compressor Station (HPCS) akibat banjir. Padahal, listrik menjadi bagian penting untuk menjalankan berbagai fasilitas, termasuk instalasi pengolahan air dan peralatan produksi.

Tim kemudian melakukan inovasi dengan mengaktifkan SP-5 setelah melakukan modifikasi sehingga mampu mengambil alih fungsi HPCS sebagai sumber pasokan gas untuk pembangkit listrik.

Saat ini, HPCS belum kembali aktif. Pasokan gas untuk pembangkit berasal dari SP-5 dan SP-1.

"Setiap ujian tentunya ada hikmah. Salah satu hikmahnya adalah kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Ketika listrik sudah teratasi perlahan produksi yang sebelumnya nol barel mulai bergerak naik," katanya.

Dalam proses pemulihan, produksi minyak PEP Rantau Field bahkan sempat mencapai 2.000 barel per hari pada Mei dan Agustus 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum banjir.

Saat ini, produksi minyak kembali stabil di sekitar 1.700 barel per hari.

Tomi mengatakan pemulihan tersebut tergolong cepat. Sebelumnya, tim memperkirakan proses pemulihan membutuhkan waktu antara satu hingga tiga tahun.

Menurutnya, percepatan pemulihan tidak lepas dari bantuan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina, seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba, dan sejumlah lapangan lainnya.

"Pulih lebih cepat ini bisa terwujud karena ada bantuan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina. Seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba dan sejumlah lapangan lainnya ikut terlibat aktif dalam pemulihan fasilitas Rantau Field. Pertamina ini satu keluarga, jika satu tertimpa musibah yang lain datang membantu," katanya.

Atas percepatan pemulihan produksi tersebut, SKK Migas memberikan penghargaan kepada Pertamina EP Rantau Field pada 8 April 2026.

Banjir besar yang menerjang wilayah kerja pada akhir November 2025 disebut memiliki ketinggian sekitar 4-4,5 meter dengan endapan lumpur mencapai 30-80 sentimeter. Bencana tersebut berdampak pada fasilitas produksi, perkantoran, dan permukiman pekerja.* (dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru