Siap Sulap Kreativitas Anak Muda Jadi Cuan! GEKRAFS Abdya Siap Gandeng Pemkab Dorong UMKM
ACEH BARAT DAYA Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi kre
EKONOMI
JAKARTA - Pemerintah telah menarik pembiayaan utang sebesar Rp 494,3 triliun hingga akhir September 2026. Realisasi tersebut setara 59,4% dari target pembiayaan utang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 832,2 triliun.
Penarikan utang itu berlangsung ketika APBN mencatat defisit Rp 319 triliun atau sekitar 1,24% dari produk domestik bruto (PDB).
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan realisasi pembiayaan utang pemerintah masih terkendali. Menurutnya, nominal utang yang ditarik hingga September 2026 juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Baca Juga:
"Pembiayaan utang terjaga on track," ujar Suahasil dalam konferensi pers, dikutip Minggu (11/10/2026).
Pada periode yang sama tahun lalu, realisasi pembiayaan utang tercatat mencapai Rp 502,9 triliun atau 64,8% dari target APBN sebesar Rp 775,9 triliun.
Utang dari Penerbitan SBN Capai Rp 497,5 Triliun
Secara terperinci, pembiayaan utang pemerintah berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 497,5 triliun. Angka tersebut setara 62,2% dari target penerbitan SBN dalam APBN 2026 sebesar Rp 799,5 triliun.
Sementara itu, realisasi pembiayaan melalui pinjaman masih mencatatkan angka minus Rp 3,2 triliun. Kedua komponen tersebut menghasilkan pembiayaan utang bersih sebesar Rp 494,3 triliun.
Suahasil mengatakan pemerintah terus memperhatikan kondisi pasar SBN serta perkembangan ekonomi global sebelum mengambil keputusan penerbitan surat utang.
"Jadi sudah 62,2%. Kita sangat memperhatikan kondisi pasar SBN dan juga kondisi ekonomi global di dunia," katanya.
Ia menjelaskan, penerbitan SBN dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar. Pemerintah juga berupaya memanfaatkan momentum ketika kondisi pasar mendukung penerbitan surat utang.
"Karena menerbitkan SBN ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, melihat kondisi pasar, tapi juga harus oportunistik. Kalau lagi bagus pasarnya, kita terbitkan, lagi kurang bagus pasarnya, kita agak lakukan adjustment sedikit," tutur Suahasil.
Defisit APBN September 2026 Capai Rp 319 Triliun
Selain mencatat pembiayaan utang, APBN hingga akhir September 2026 mengalami defisit sebesar Rp 319 triliun atau setara 1,24% dari PDB.
Defisit terjadi karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Pemerintah mencatat belanja negara mencapai Rp 2.660,5 triliun, sedangkan pendapatan negara yang dilaporkan dalam paparan mencapai sekitar Rp 2.341,5 triliun.
Suahasil menyebut defisit tersebut masih sesuai dengan arah kebijakan fiskal pemerintah. APBN memang dirancang mengalami defisit untuk mendukung belanja negara dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Defisit saat ini 1,2% dari PDB. Jadi, ini on track," ujar Suahasil.
Pada akhir Agustus 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau sekitar 0,9% dari PDB. Angka tersebut kemudian meningkat pada akhir September seiring perkembangan pendapatan dan belanja negara.
"Ini on track karena memang APBN kita desain defisit, kenapa? Karena kita ingin belanja saat ini dengan supaya manfaat bagi masyarakat itu benar-benar maksimal dari hari ke hari," jelasnya.
Pendapatan dan Belanja Negara hingga September
Dari sisi penerimaan, realisasi pendapatan negara mencakup penerimaan pajak sebesar Rp 1.607,6 triliun atau tumbuh 24,1% secara tahunan.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 240,1 triliun atau tumbuh 8,5%. Adapun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 492,3 triliun atau tumbuh 41,7%.
Di sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp 2.660,5 triliun atau sekitar 69,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp 3.842 triliun. Angka tersebut tumbuh 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp 2.061,3 triliun. Jumlah itu terdiri atas belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 1.069,4 triliun dan belanja non-kementerian/lembaga sebesar Rp 991,9 triliun.
Sementara itu, realisasi transfer ke daerah mencapai Rp 599,2 triliun atau 82,4% dari target APBN.
Pemerintah menargetkan defisit APBN mencapai 2,8% dari PDB pada akhir 2026. Suahasil menyebut perkembangan defisit hingga September masih menjadi bagian dari perjalanan pelaksanaan anggaran yang telah dirancang pemerintah.
"Hari ini akhir September 1,2% nanti kita akan menuju di akhir tahun 2,8%. Ini adalah perjalanan APBN," kata Suahasil.* (d/dh)
ACEH BARAT DAYA Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi kre
EKONOMI
MEDAN Ketua DPRD Kota Medan Wong Chun Sen Tarigan meminta polisi menyelidiki dugaan keracunan yang dialami belasan siswa sekolah dasar (SD
KESEHATAN
MEDAN Brigjen Pol Fadillah Zulkarnaen ditunjuk menjadi Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Wakapolda Sumut), menggantikan Brigj
NASIONAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa bahasa dan sastra Indonesia kini mulai diajarkan di Universitas AlAzhar, Mesir. Hal
NASIONAL
BANDA ACEH Tim Opsnal Unit V Jatanras Satreskrim Polresta Banda Aceh menangkap pria berinisial HK (40) yang diduga mencuri dua telepon gen
HUKUM DAN KRIMINAL
BINJAI Perbaikan Jalan Sumatera di Kecamatan Binjai Utara akhirnya terealisasi setelah melalui proses advokasi selama kurang lebih lima ta
PEMERINTAHAN
TANJUNG JABUNG TIMUR Kepala Desa Majelis Hidayah, Mulyadi, menyampaikan apresiasi kepada Bupati Tanjung Jabung Timur, Hj. Dillah Hikmah Sa
PEMERINTAHAN
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto mulai mengantongi dukungan dari sejumlah partai politik untuk kembali maju sebagai calon presiden (capre
POLITIK
MEDAN Pemerintah Kota (Pemkot) Medan menganggarkan Rp 46,1 miliar untuk proyek pematangan lahan kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Terj
PEMERINTAHAN
JAKARTA Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto merotasi jabatan tujuh Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda), termasuk di Sumatera Utara (S
NASIONAL