Pengunjung menyaksikan kendaraan taktis militer saat pameran Indo Defence 2024 saat pembukaan pameran Indo Defence 2024 Expo and Forum di Jakarta, Selasa (11/06/2025). (foto: Reuters/Ajeng)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
"Dalam konteks Indo-Pasifik yang sensitif, komitmen Indonesia terhadap proyek-proyek besar bisa disalahartikan sebagai perubahan aliansi, terutama jika kontribusi keuangan atau implementasi program mengalami hambatan," jelas Pandie.
Contohnya, penurunan kontribusi Indonesia dalam proyek KF-21 dinilai melemahkan tingkat transfer teknologi dan kredibilitasnya di mata Korea Selatan.
Sementara itu, keputusan pembelian jet tempur Turki KAAN justru menambah kompleksitas tanpa menyelesaikan masalah strategis jangka panjang.
Pandie menyebut bahwa akar dari persoalan ini adalah kekosongan kebijakan strategis.
Buku Putih Pertahanan Indonesia terakhir terbit pada 2015 dan belum diperbarui, sementara program Minimum Essential Force (MEF) telah berakhir pada 2024 tanpa mencapai seluruh targetnya.
"Tanpa strategi panduan yang kokoh, keputusan pengadaan rawan disetir oleh kalkulasi politik jangka pendek atau preferensi elit tertentu, bukan kebutuhan pertahanan nasional," tegasnya.
Saat ini pemerintah disebut tengah menyusun rencana Kekuatan Esensial Optimal, namun belum ada rincian yang dipublikasikan ke publik.
Kritik dari Pieter Pandie menjadi pengingat penting bahwa penguatan alutsista tidak cukup hanya dengan membeli dalam jumlah besar dari berbagai negara.
Diperlukan strategi menyeluruh, akuntabel, dan berjangka panjang agar setiap investasi pertahanan benar-benar memperkuat posisi Indonesia di tengah tantangan geopolitik yang kian kompleks.*