BREAKING NEWS
Minggu, 28 Juni 2026

Kasus Keracunan Siswa Masih Terjadi, BRIN Ungkap Celah dalam Program MBG

Dharma - Rabu, 06 Mei 2026 10:53 WIB
Kasus Keracunan Siswa Masih Terjadi, BRIN Ungkap Celah dalam Program MBG
Dapur MBG. (Foto: tangkapan layar yt setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan pada awal 2025 masih menghadapi persoalan serius terkait keamanan pangan.

Sejumlah kasus dugaan keracunan siswa yang mengonsumsi makanan dari program tersebut kembali memunculkan sorotan terhadap standar pengelolaan makanan di lapangan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Prof. Dr. Dede Anwar Musadad, menilai terdapat titik-titik kritis atau critical control points (CCP) dalam seluruh rantai penyelenggaraan MBG yang harus diawasi ketat untuk mencegah risiko kesehatan.

Baca Juga:

"Setiap pihak yang terlibat dalam rantai pangan wajib mengendalikan risiko, baik dari bahan, peralatan, maupun lingkungan," ujar Dede, dari situs BRIN, Rabu, 6 Mei 2026.

Ia menjelaskan, potensi kontaminasi pangan dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari faktor fisik, biologis, kimia, hingga alergen.

Sejumlah patogen yang kerap ditemukan dalam kasus keracunan pangan antara lain Escherichia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.

Menurut Dede, terdapat delapan tahapan penting dalam pengolahan pangan, namun risiko tertinggi terjadi pada proses memasak, penyimpanan makanan matang, serta lamanya waktu antara produksi dan konsumsi.

"Produksi sajian MBG dalam jumlah besar dengan proses yang panjang juga meningkatkan potensi kontaminasi," kata dia.

Ia menilai, standar operasional program MBG saat ini masih belum seragam karena program masih dalam tahap pengembangan.

Kondisi itu membuat penguatan sistem pengawasan menjadi mendesak.

Selain itu, aspek sanitasi seperti ketersediaan air bersih, pengelolaan limbah, serta higiene perorangan juga dinilai berperan penting dalam mencegah kontaminasi makanan.

Peneliti BRIN lainnya, Joko Irianto, menambahkan bahwa pengawasan kualitas bahan baku, proses penyimpanan, hingga penyajian harus dilakukan secara terintegrasi.

"Pengawasan kualitas bahan, penyimpanan yang benar, pengolahan yang higienis, serta penyajian yang aman merupakan satu kesatuan untuk mencegah kontaminasi," ujar Joko.

Ia menekankan pentingnya pemeriksaan bahan makanan, baik secara visual maupun melalui uji laboratorium, untuk memastikan keamanan konsumsi.

Penggunaan sistem first in first out (FIFO) dalam penyimpanan juga dinilai penting untuk mencegah pembusukan.

Selain itu, tenaga pengolah makanan disebut perlu memiliki sertifikasi serta menerapkan prinsip Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) dalam proses produksi makanan.

"Penguatan kompetensi tenaga dan standarisasi fasilitas pengolahan pangan menjadi langkah penting agar program MBG berjalan aman dan berkelanjutan," kata Joko.*


(km/ad)

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Warga Sumut Mengeluh Kesulitan dan Ditolak Saat Berobat, Bobby Nasution Tegur BPJS Kesehatan
Rico Waas: Medan Kota dengan Standar Rasa Tertinggi, Pagi Sore Diminta Jaga Kualitas Kuliner
Purbaya Akui Ada Kebocoran Anggaran Motor BGN, Sistem Kini Diperbaiki
JKA Diperkuat, Gubernur Aceh Tekankan Layanan Kesehatan Harus Tepat Sasaran
Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I 2026, Pemerintah Sebut Lepas dari Stagnasi 5 Persen
BGN Perkuat Program MBG untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional dan Wujudkan Generasi Emas 2045
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru