Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap target-target Israel dan Amerika di kawasan Teluk.
Mengutip Reuters, kematian dua pejabat tinggi Iran tersebut bersumber dari dua narasumber yang mengetahui operasi militer Israel dan seorang pejabat regional.
Hingga kini, kabar itu belum dapat diverifikasi secara independen.
Ledakan terjadi sekitar pukul 09.27 waktu setempat di kawasan University Street dan Jomhouri di Teheran, tidak jauh dari markas IRGC.
Serangan juga dilaporkan mengenai kompleks kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta terdengar di sejumlah kota lain seperti Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, dan Karaj.
Departemen Pertahanan AS menyebut misi gabungan dengan Israel ini sebagai Operation Epic Fury, sedangkan Israel menamainya Lion's Roar.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi bertujuan menghancurkan kemampuan rudal Iran, melumpuhkan angkatan lautnya, dan memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.
Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan operasi akan berlanjut sesuai kebutuhan.
Serangan ini terjadi di tengah negosiasi nuklir dan rudal balistik antara Washington dan Teheran, yang sebelumnya menunjukkan kemajuan signifikan melalui mediasi Oman di Jenewa. Eskalasi militer ini menghentikan sementara pembicaraan damai.
Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke Israel, termasuk ke lokasi-lokasi terkait operasi militer AS di kawasan Teluk seperti Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Al-Salem di Kuwait, Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, serta markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Militer Israel melaporkan sirene peringatan berbunyi di sejumlah wilayah, disertai ledakan di bagian utara negara itu.
Kejadian ini meningkatkan ketegangan regional dan memicu kekhawatiran pasar global serta keamanan internasional, karena serangan gabungan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis dan sipil, termasuk sekolah di Iran yang menelan puluhan korban.*