BREAKING NEWS
Senin, 25 Mei 2026

Menghadapi Skizofrenia Katatonik: Kisah Perjuangan Wanita Bandung yang Tak Dikenali Keluarga

- Senin, 26 Mei 2025 11:13 WIB
Menghadapi Skizofrenia Katatonik: Kisah Perjuangan Wanita Bandung yang Tak Dikenali Keluarga
Ilustrasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDUNG -Seorang wanita asal Bandung bernama Stephania atau yang akrab disapa Thepi, berbagi kisahnya tentang perjuangan hidup melawan skizofrenia katatonik yang telah ia alami sejak 2018.

Kini berusia 33 tahun, Thepi mengungkapkan bagaimana ia berjuang melawan gangguan mental yang memengaruhi fisik dan mentalnya.

Cerita ini bermula saat Thepi menyadari ada yang janggal dengan kondisi tubuhnya. Suatu hari, tubuhnya mendadak lumpuh, kaku, dan ia tak bisa berbicara atau merespons siapa pun selama hampir 40 menit.

Kejadian yang mengejutkan ini membuatnya langsung dilarikan ke rumah sakit di Jakarta, di mana ia kemudian didiagnosis dengan skizofrenia katatonik, sebuah jenis skizofrenia yang

"Aku mengidap skizofrenia, tapi masih di fase katatonik. Jadi, skizofrenia itu ada beberapa tahapan, salah satunya katatonik yang menyerang fisik," jelas Thepi.

Setelah mendapatkan pengobatan, Thepi merasakan perubahan yang cukup besar pada tubuhnya. Selain gejala fisik seperti tremor, kekakuan otot, dan keterbatasan gerakan, ia juga mengalami gangguan psikologis yang cukup berat.

Ia merasa takut terus-menerus, tidak bisa sendirian, dan merasa cemas berada di tengah keramaian.

"Aku sempat pindah kosan hingga tujuh kali dalam dua bulan karena merasa seperti diikuti orang," kata Thepi.

Thepi bahkan sempat mengalami episode tertawa tanpa kendali di tempat umum, termasuk di kantor. Meskipun ia merasa tidak ingin tertawa, perasaan itu tetap muncul.

Saat itu, ia merasa tubuh dan pikirannya sudah sangat kelelahan karena memaksakan diri untuk bekerja.

Kondisinya yang semakin memburuk membuat Thepi harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama hampir tiga bulan. Setiap minggu, ia menginap beberapa hari untuk observasi dan terapi.

Salah satu terapi yang disarankan oleh dokter adalah aktivitas yang ia sukai, yaitu menulis dan menggambar.

"Dokter tanya, 'Apa yang kamu suka selain membaca?' Aku bilang, 'Aku suka nulis dan gambar.' Jadi, aku difasilitasi dengan cat air untuk menggambar," kenang Thepi.

Aktivitas tersebut terbukti membantu proses pemulihan Thepi. Pada 2020, kondisinya mulai membaik dan stabil, dan ia kembali bisa beraktivitas normal seperti semula. Dengan izin dokter, ia mulai mengurangi konsumsi obat secara bertahap.

Namun, perjuangan Thepi tidak hanya terfokus pada kondisi fisik dan mentalnya. Ia juga harus menghadapi ketidaksiapan keluarga dalam menerima kondisi tersebut.

Keluarganya, yang berasal dari latar belakang konservatif dan beragama Katolik, awalnya tidak memahami gangguan yang dialaminya. Bahkan, mereka sempat mengira Thepi terkena santet.

"Aku sempat dibawa pulang ke Kupang, dan di sana keluarga berpikir aku kena santet. Tapi setelah dibawa ke rumah sakit jiwa di Kupang, barulah mereka tahu ini masalah medis," ujar Thepi.

Meskipun kini sudah jauh lebih stabil, Thepi mengakui bahwa sesekali gejala skizofrenia masih muncul dalam situasi tertentu. Kekakuan tubuh saat panik atau melihat hal-hal yang tidak nyata adalah gejala yang masih bisa muncul, namun ia kini mampu mengenali dan mengendalikan respons tubuhnya.

"Sekarang aku bisa mengenali kapan gejala-gejala itu muncul dan mulai mengontrolnya," tuturnya.*

(dc/j006)

Editor
:
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru