Dalam paparannya, ia menyebut bahwa hampir setiap jam terdapat bayi yang meninggal dunia, sementara kematianibu hamil atau melahirkan terjadi dalam rentang waktu yang tidak jauh berbeda.
"Jika angka kematian bayi kita sekitar 33 ribu per tahun, dibagi 365 hari dan 24 jam, maka setiap jam hampir empat bayi meninggal. Artinya, selama kita duduk dan berbicara satu jam, tiga bayi meninggal di Indonesia," kata Budi saat menghadiri Peresmian Peningkatan Kapabilitas Lini Produksi MMS dan R&D Bayer Indonesia di Depok, Kamis (15/1/2026).
Selain kematianbayi, Budi juga menyoroti angka kematianibu yang masih tinggi, yakni sekitar 4.100 kasus per tahun.
Menurutnya, kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dalam memperbaiki layanan kesehatan maternal.
"Dalam dua jam diskusi saja, dua ibu bisa meninggal," ujarnya.
Budi menegaskan bahwa persoalan kematianibu dan bayi berkaitan erat dengan masalah gizi dan kesehatan ibu hamil, termasuk tingginya angka stunting.
Isu tersebut dinilai menjadi tantangan serius dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Pemerintah, kata dia, mendorong keterlibatan berbagai pihak, termasuk sektor industri, untuk memperkuat ekosistem kesehatan nasional.
Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah penguatan produksi dalam negeri untuk menjamin ketersediaan produk kesehatan yang berkualitas.
"Penguatan produksi MMS dan riset dan pengembangan di dalam negeri merupakan langkah strategis untuk mendukung prioritas nasional, termasuk kesehatan ibu dan anak," ujar Budi.
Dalam kesempatan yang sama, Bayer Indonesia meresmikan peningkatan kapabilitas lini produksi Multiple Micronutrient Supplements (MMS) di Pabrik Bayer Consumer Health Cimanggis.