BITVONLINE.COM– Kepergian Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Moskow menandai berakhirnya dinasti keluarga Assad yang telah berkuasa selama lebih dari lima dekade. Pada Minggu (8/12), kelompok oposisi Suriah berhasil merebut Damaskus setelah serangkaian serangan ofensif, memaksa Bashar al-Assad meninggalkan ibu kota dan mencari perlindungan di Rusia.
Keluarga Assad pertama kali menguasai Suriah pada 1970-an, dimulai oleh Hafez al-Assad, ayah dari Bashar al-Assad. Pada tahun 1970, Hafez yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan, melakukan kudeta yang berhasil mengalahkan Salah Jadid, sesama anggota Partai Ba’ath, yang menyebabkan Hafez menguasai Suriah. Setelah itu, pada 1972, Hafez terpilih menjadi Presiden Suriah tanpa lawan. Hafez juga menjadi pemimpin yang sangat kuat dan tidak segan-segan untuk menggunakan kekerasan dalam menjaga kestabilan kekuasaannya, termasuk memimpin pasukannya dalam berbagai perang, seperti Perang Yom Kippur pada 1973 melawan Israel, serta campur tangan Suriah dalam Perang Lebanon pada 1976.Salah satu episode paling kelam dalam pemerintahan Hafez al-Assad adalah Pembantaian Hama pada 1982, di mana ribuan warga, terutama dari kelompok Persaudaraan Muslim, dibunuh setelah terjadinya pemberontakan bersenjata. Pembantaian tersebut menjadi kenangan pahit bagi rakyat Suriah dan menambah jejak kekejaman rezim keluarga Assad.
Pada tahun 2000, setelah Hafez al-Assad meninggal, Bashar al-Assad, putranya, menggantikan posisi tersebut. Pemerintahan Bashar diawali dengan harapan reformasi politik setelah berkuasa pada usia 34 tahun, namun harapan tersebut segera pupus. Meskipun ada dorongan untuk kebebasan dan pluralisme dari intelektual Suriah pada tahun 2000, pada akhirnya Bashar malah semakin menekan kebebasan berpendapat dan menangkap para lawan politiknya.Musim semi Suriah dimulai pada 2011, sebagai bagian dari gelombang revolusi Arab yang melanda kawasan Timur Tengah. Namun, alih-alih melakukan reformasi, Bashar al-Assad merespons dengan kekerasan brutal, yang berujung pada pecahnya perang saudara di Suriah. Konflik ini berlangsung lebih dari satu dekade dan mengakibatkan lebih dari 500.000 korban jiwa serta jutaan warga lainnya mengungsi ke luar negeri.
Dalam menghadapi perang saudara ini, Bashar al-Assad didukung oleh Rusia dan Iran, yang memberikan bantuan militer. Berkat dukungan ini, pasukan Suriah berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah yang sempat dikuasai oleh kelompok oposisi dan pemberontak. Meski demikian, Suriah tetap berada dalam kondisi yang sangat sulit, dengan infrastruktur hancur dan ekonomi yang porak-poranda.Namun, pada awal Desember 2024, serangan ofensif yang dipimpin oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) berhasil merebut beberapa kota strategis, termasuk Damaskus, yang akhirnya membuat Bashar al-Assad melarikan diri ke Moskow. Kepergian al-Assad menandai berakhirnya kekuasaan keluarga Assad di Suriah setelah lebih dari 50 tahun mendominasi negara itu.Situasi di Suriah kini memasuki babak baru, dengan kelompok oposisi menguasai wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh rezim al-Assad. Meskipun begitu, masa depan Suriah tetap penuh ketidakpastian, dengan pertanyaan besar mengenai bagaimana negara itu akan dibangun kembali pasca-perang dan apakah perdamaian yang sejati akan tercapai.
(JOHANSIRAIT)
Kekuasaan Keluarga Assad Berakhir: Bashar al-Assad Melarikan Diri ke Moskow Setelah Damaskus Jatuh ke Oposisi