Sejumlah Kader NasDem Resmi Berlabuh ke PSI: Efek Jokowi?
JAKARTA Sejumlah kader Partai NasDem memilih bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). PSI menilai fenomena ini merupakan efek
POLITIK
JAKARTA - Angka perceraian di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Jumat (11/7/2025), kasus perceraian tahun ini tercatat mengalami lonjakan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 394.608 kasus.
Fenomena ini menjadi sorotan serius karena menunjukkan adanya ketidakstabilan dalam hubungan rumah tangga yang semakin kompleks. Konselor pernikahan Shofiy Yusro, S.Psi., menyebutkan bahwa ada enam faktor utama penyebab perceraian yang kerap dialami pasangan suami istri di Indonesia.
"Antara lain perselisihan dan pertengkaran yang terjadi terus-menerus, masalah ekonomi termasuk tidak diberi nafkah oleh suami, salah satu pihak meninggalkan pasangannya, serta keterlibatan dalam penyalahgunaan alkohol atau narkotika," jelas Shofiy dalam wawancara eksklusif.
Perselisihan dan Masalah Ekonomi Jadi Pemicu Tertinggi
Dari data BPS tahun 2024, penyebab paling dominan dari perceraian adalah perselisihan yang berlangsung terus-menerus, dengan jumlah 251.125 kasus. Disusul oleh masalah ekonomi, terutama ketidakmampuan memberikan nafkah, yang mencatat 100.198 kasus perceraian.
Sementara itu, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menyumbang 7.243 kasus perceraian, sedangkan perselingkuhan atau zina menjadi penyebab dari 1.005 kasus yang tercatat secara resmi.
"Faktor kekerasan dan perselingkuhan sering kali menjadi pemicu perceraian yang paling emosional dan berdampak panjang terhadap kondisi psikologis pasangan, bahkan anak-anak," tambah Shofiy.
Butuh Upaya Pencegahan dan Edukasi Keluarga
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat ketahanan keluarga. Banyak pihak menilai bahwa perlu adanya pendampingan pranikah yang lebih serius, edukasi ekonomi rumah tangga, hingga layanan konseling keluarga yang mudah diakses publik.
"Perceraian tidak hanya soal putusnya hubungan, tetapi menyisakan trauma psikologis dan dampak sosial yang luas. Maka pendekatan preventif jauh lebih penting," tegas Shofiy.
Hingga pertengahan 2025, belum ada tanda-tanda signifikan penurunan angka perceraian. Masyarakat dan pemangku kebijakan diimbau untuk segera merespons kondisi ini dengan kebijakan yang lebih berorientasi pada penguatan institusi keluarga dan pemulihan hubungan pasangan.*
(oz/j006)
JAKARTA Sejumlah kader Partai NasDem memilih bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). PSI menilai fenomena ini merupakan efek
POLITIK
MEDAN Kebakaran hebat melanda pabrik ban dan sandal Swallow di Jalan Yos Sudarso, Kota Medan, sejak Selasa malam (27/1) hingga Rabu dini
PERISTIWA
OlehHabiburokhman. KAMI perlu menanggapi pengawasan kinerja Polri oleh Kompolnas. Perlu digarisbawahi bahwa Kompolnas bukanlah lembaga pen
OPINI
BEKASI Organisasi masyarakat Horas Bangso Batak (HBB) menolak rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) u
NASIONAL
JAKARTA Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution meminta pemerintah kabupaten dan kota yang terdampak bencana banjir dan lon
PEMERINTAHAN
KISARAN Pemerintah Kabupaten Asahan menerima Penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Tahun 2026 Kategori Madya pada ajang Deklarasi
PEMERINTAHAN
BATU BARA Wakil Bupati Batu Bara Syafrizal, S.E., M.AP., memastikan optimalisasi pelayanan publik yang menyentuh langsung masyarakat berj
PEMERINTAHAN
JAKARTA PUSAT Guna mempercepat pendaftaran tanah aset, penyelesaian sengketa, dan kepastian hukum di daerah Kabupaten Batu Bara, Bupati Ba
PEMERINTAHAN
JAKARTA PUSAT Sebagai bentuk apresiasi atas komitmen Bupati Batu Bara H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si., dalam menjamin kesehatan masy
PEMERINTAHAN
BATU BARA Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Labuhan Ruku kembali melaksanakan kegiatan pembagian bantuan sosial kepada keluarga warga binaa
NASIONAL