Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dalam rapat koordinasi penanganan dan pemulihan bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Minggu (7/12/2025). (Foto: Tangkapan Layar setpres /YT)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
ACEH BESAR – Korban banjir bandang di Sumatera rencananya akan direlokasi ke hunian sementara (huntara) yang diperkirakan selesai dibangun dalam waktu enam bulan.
Rencana ini diungkapkan Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dalam rapat koordinasi penanganan dan pemulihan bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Minggu (7/12/2025).
"Untuk daerah yang relatif sudah pulih, seperti di Sumatera Barat dan sebagian Sumatera Utara, kami akan masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Masyarakat yang kini tinggal di pengungsian akan dialihkan ke huntara yang dibangun Satgas TNI-Polri," kata Suharyanto.
SETELAH PEMBANGUNAN huntara, Suharyanto menyebut akan dibangun hunian tetap (huntap) bagi warga yang rumahnya hanyut atau rusak berat.
Pemerintah meminta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) membantu pembangunan huntap, sementara rumah yang rusak tapi warganya tidak harus pindah akan diperbaiki oleh Satgas BNPB.
HARGA SATU UNIT huntara diperkirakan Rp 30 juta dengan tipe 36 yang sudah dilengkapi kamar mandi.
Huntara ini dirancang untuk dihuni maksimal selama satu tahun sebelum warga dipindahkan ke hunian tetap. Presiden Prabowo Subianto menanyakan kemungkinan huntara digunakan lebih dari satu tahun jika prefab memadai, namun Suharyanto menjelaskan hal itu tergantung ketersediaan lahan.
PEMBANGUNAN HUNTARA ini mengambil contoh dari pengungsi erupsi Gunung Lewotobi di NTT, yang selesai memindahkan 8.000 kepala keluarga kurang dari enam bulan.
Presiden Prabowo menekankan agar huntara di Sumatera bisa selesai lebih cepat dari enam bulan jika memungkinkan.
UNTUK HUNTAP, pemerintah menetapkan biaya Rp 60 juta per unit dalam bentuk rumah, bukan uang tunai, untuk menghindari penyalahgunaan bantuan.
SUHARYANTO MENAMBAHKAN bahwa kerusakan rumah di Aceh telah mencapai 37.546 unit, termasuk rusak berat yang hilang tersapu banjir, rusak sedang, dan ringan.
Dampak bencana juga terjadi pada fasilitas umum seperti jembatan, jalan, tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, dan puskesmas, serta sektor pertanian, ternak, sawah, kebun, tambak, dan kantor pemerintahan.