Kedekatan keduanya dimulai sejak awal 1990-an, saat bersama-sama menyusun Seminar Angkatan Darat II di Bandung, sebuah momentum penting bagi perubahan internal TNI.
"Almarhum sangat konsisten mendorong profesionalisme militer dan supremasi sipil. Ia adalah arsitek intelektual yang mengakhiri era Dwifungsi ABRI pada masa transisi reformasi," kata Prof. Didik.
Ia dikenal mampu menjembatani dialog yang sehat antara kalangan militer dan sipil, dengan gaya komunikasi santun dan bernas.
Menurut Prof. Didik, Agus Widjojo meyakini bahwa keterlibatan militer dalam politik praktis hanya melemahkan profesionalisme TNI.
"Militer yang kuat lahir dari sistem demokrasi yang sehat, bukan kekuasaan pragmatis," ujarnya. Almarhum juga menekankan bahwa militer harus tunduk pada konstitusi dan hukum, sementara kekuasaan politik berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis.
Kepergian Agus Widjojo meninggalkan ruang kosong bagi jajaran perwira intelektual Indonesia.
"Indonesia kehilangan seorang pemikir strategis yang mendedikasikan hidupnya menyeimbangkan peran masyarakat madani dalam kerangka trias politika," pungkas Prof. Didik.*
(dh)
Editor
: Dharma
Kepergian Agus Widjojo, Figur Militer yang Menjunjung Profesionalisme dan Supremasi Sipil