"Di Aceh Tamiang masih banyak yang tinggal di tenda-tenda pengungsian dan malah tidurnya ada yang di kuburan China. Itu sangat menyedihkan sekali," ujar Nora dalam rapat.
Ia menyebut sebagian warga belum dapat kembali ke rumah karena keterbatasan biaya untuk membersihkan dan memperbaiki tempat tinggal yang terdampak banjir.
Nora meminta Pemerintah Aceh memprioritaskan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2026 bagi masyarakat terdampak bencana.
Menurut dia, sejumlah bantuan yang dijanjikan kepada korban, seperti penggantian perabotan rumah tangga dan pemulihan ekonomi, belum sepenuhnya diterima warga. "Saya berharap APBA 2026 berpihak kepada masyarakat terdampak bencana," kata Nora.
Dalam rapat yang sama, anggota DPRA dari Partai Aceh, Nazaruddin atau Teungku Agam, mengusulkan agar anggaran rehabilitasi rumah dinas DPR Aceh senilai Rp 50 miliar yang telah dibatalkan dialihkan untuk membantu korban banjir.
Ia mengusulkan agar bantuan diberikan dalam bentuk uang tunai langsung kepada warga terdampak.
"Kami mengusulkan agar anggaran yang telah dibatalkan tersebut disalurkan kepada korban banjir. Sampai sekarang rehab rumah DPR sudah dibatalkan, tetapi belum jelas dialihkan ke mana," ujar Teungku Agam.
Sejumlah anggota dewan menyatakan dukungan terhadap usulan tersebut dalam forum rapat. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pimpinan DPRA maupun Pemerintah Aceh mengenai kemungkinan realokasi anggaran tersebut.*