Menurut Bahlil, pemerintah menyiapkan langkah mitigasi dengan mengalihkan sebagian impor minyak mentah (crude) dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat.
"Skenarionya, crude yang selama ini kami ambil dari Timur Tengah, sebagian kami alihkan ke Amerika Serikat," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3).
Ia menjelaskan, sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini melewati jalur Selat Hormuz.
Jalur tersebut dikenal sebagai salah satu titik strategis distribusi energi global yang rentan terdampak konflik geopolitik di kawasan.
Adapun sisanya, kata Bahlil, berasal dari berbagai negara di luar kawasan tersebut, termasuk Amerika Serikat, Brasil, dan sejumlah negara Afrika seperti Angola.
Diversifikasi pasokan ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas suplai energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Untuk impor BBM, Bahlil memastikan Indonesia tidak bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Pemerintah, kata dia, mengimpor BBM dari negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia dengan kontrak jangka panjang.
"Untuk BBM, kita ambil dari Singapura dan Malaysia, dan kontraknya jangka panjang. Jadi relatif aman," ujarnya.
Sebelumnya, konflik di Timur Tengah meningkat setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan tersebut.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas harga minyak dunia.
Meski demikian, pemerintah memastikan pasokan energi nasional dalam kondisi terjaga dan terus memantau perkembangan situasi geopolitik internasional.*