TNI AL melakukan latihan bersama dengan Angkatan Laut Malaysia dalam kegiatan Passing Exercise (PASSEX) yang digelar di perairan Laut Jawa pada 4 April 2026. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Kegiatan Passing Exercise (PASSEX) yang digelar di perairan Laut Jawa pada 4 April 2026, melibatkan unsur KRI Bung Hatta-370 dari Indonesia dan dua kapal perang Malaysia, yakni KD Kelantan dan KD Badik.
Latihan PASSEX ini merupakan bagian dari upaya kedua negara untuk meningkatkan interoperabilitas angkatan laut, sekaligus mempererat hubungan bilateral di bidang kemaritiman dan pertahanan.
Kegiatan ini juga menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga stabilitas keamananmaritim di kawasan yang strategis ini.
PANGLIMA Koarmada II, Laksamana Muda TNI I Gung Putu Alit Jaya, menyatakan bahwa latihan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan taktis dan prosedural para prajurit, serta memperkuat koordinasi antarnegara dalam menghadapi potensi ancaman di kawasan maritim.
Sejumlah materi latihan dilaksanakan secara terkoordinasi, termasuk manuver sederhana (Simple Maneuver), Joining Group dalam Formasi 1, serta Replenishment At Sea Approach (RASAP).
Latihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam operasi gabungan, sehingga pasukan dapat merespons lebih cepat dan efisien dalam menghadapi situasi darurat.
Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat komunikasi antara TNI AL dan Angkatan LautMalaysia dalam berbagai operasi kemaritiman.
Laksamana Muda TNI I Gung Putu Alit Jaya menekankan bahwa latihan ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi juga simbol hubungan persahabatan yang semakin erat antara Indonesia dan Malaysia.
Latihan PASSEX ini juga menjadi bukti nyata bahwa kedua negara berkomitmen untuk menjaga perdamaian di kawasan, terutama di wilayah perairan yang memiliki nilai strategis tinggi.
Melalui latihan bersama ini, TNI AL terus mengedepankan naval diplomacy sebagai instrumen penting dalam memperkuat hubungan antarnegara, menjaga stabilitas keamanan kawasan, serta mendukung peran aktif Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Langkah ini semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai kekuatan maritim yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.