BREAKING NEWS
Senin, 15 Juni 2026

Bahasa Saja Tak Cukup, Mahasiswa Mandarin Didorong Jadi Jembatan Komunikasi Indonesia-Tiongkok

gusWedha - Senin, 15 Juni 2026 13:34 WIB
Bahasa Saja Tak Cukup, Mahasiswa Mandarin Didorong Jadi Jembatan Komunikasi Indonesia-Tiongkok
Praktisi komunikasi Wendelyn Leo dalam workshop yang diikuti mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional UNPRI, Jumat, 12 Juni 2026. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Kemampuan berbahasa Mandarin dinilai tidak lagi cukup untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja yang semakin global.

Generasi muda kini dituntut memiliki kemampuan komunikasi lintas budaya agar mampu menjadi penghubung antara Indonesia dan Tiongkok yang hubungan ekonominya terus berkembang.

Pesan tersebut disampaikan praktisi komunikasi Wendelyn Leo dalam workshop bertajuk "Beyond Translation: How Language, Communication, and Public Speaking Shape Reputation" yang diikuti mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Universitas Prima Indonesia (UNPRI), Jumat, 12 Juni 2026.

Baca Juga:

Dalam kegiatan tersebut, Wendelyn menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam komunikasi internasional bukan hanya soal kemampuan menerjemahkan bahasa, melainkan memahami perbedaan cara berpikir, budaya komunikasi, serta ekspektasi dari masing-masing pihak.

"Banyak orang mengira kemampuan bahasa adalah tujuan akhir. Padahal di dunia profesional, bahasa hanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana bahasa digunakan untuk membangun pemahaman, kepercayaan, dan hubungan antara pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda," kata Wendelyn.

Mantan jurnalis yang kini berkarier di bidang komunikasi korporat itu menjelaskan bahwa komunikasi memiliki peran besar dalam membentuk citra dan reputasi individu maupun organisasi.

Menurut dia, satu kata atau kalimat yang disampaikan dengan cara yang tepat dapat memengaruhi cara publik memandang seseorang maupun sebuah institusi.

Melalui sejumlah studi kasus internasional, peserta diajak memahami proses penyusunan strategi komunikasi, mulai dari menentukan pesan utama, mengenali audiens, membaca tren, membangun narasi, hingga menciptakan hubungan yang baik dengan publik.

Wendelyn menilai mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa Mandarin berada pada posisi strategis karena dapat memahami dua budaya sekaligus.

"Peran kalian bukan hanya menerjemahkan bahasa. Kalian juga bisa menjadi jembatan yang membantu kedua pihak saling memahami cara berpikir, cara berkomunikasi, dan ekspektasi yang berbeda. Kemampuan itulah yang semakin dibutuhkan di dunia kerja saat ini," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional UNPRI, Mei Lisa, B.Ed., MTCSOL, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kompetensi mahasiswa di luar kemampuan kebahasaan.

Menurut dia, penguasaan bahasa harus diimbangi dengan kemampuan komunikasi yang baik agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara tepat oleh lawan bicara.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wali Kota Medan Lepas 1.547 Petugas Sensus Ekonomi 2026, Data Akurat Jadi Kunci Kebijakan Nasional
Bundaran HI Jadi Pusat Demo Hari Ini, Ini Isi Tuntutan 11+9 Mahasiswa!
Kejagung Gandeng BPKP Audit Seluruh Pengadaan di BGN: Semua Kita Buka
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier Tiba di Jakarta, Ini Agenda Pertemuannya
Aksi Mahasiswa Serentak 15 Juni 2026 Digelar di Jakarta, Medan, Semarang, dan Palembang: Ini Tuntutannya!
IHSG Dibuka Menguat 2,85 Persen, Tembus Level 6.178!
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru