Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan refocusing lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Permintaan itu disampaikan Luhut saat bertemu Kepala BGN Sudaryono di kantornya, Jumat, 21 Agustus 2026.
Luhut menekankan setiap keputusan strategis terkait pembangunan SPPG harus menggunakan data yang akurat dan pengawasan yang ketat.
Baca Juga:
"Satu hal yang ingin saya garisbawahi adalah setiap keputusan strategis harus berlandaskan pada data yang akurat, pengawasan ketat, dan keberanian melakukan koreksi jika ada kekeliruan," ujar Luhut, Jumat (21/8/2026).
Menurut Luhut, refocusing SPPG perlu memprioritaskan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
Saat ini, sekitar 1.700 SPPG difokuskan pembangunannya di wilayah dengan tingkat prevalensi stunting tinggi, antara lain Papua, Maluku, Nias, dan Nusa Tenggara Timur.
"Pembangunan SPPG tidak boleh lagi sekadar mengikuti kemudahan berbisnis atau mencari lokasi yang gampang. Negara harus hadir lebih dulu di tempat yang paling sulit dan paling membutuhkan. Penentuan lokasi wajib berbasis data akurat seperti; angka stunting, kerentanan pangan, dan tantangan geografis," urai Luhut.
Selain meminta pemetaan ulang lokasi, Luhut menilai kualitas dan higienitas SPPG harus menjadi perhatian utama.
Standar kebersihan dan keamanan pangan, kata dia, merupakan syarat yang tidak dapat ditawar dalam pelaksanaan program MBG.
Luhut mengapresiasi langkah Kepala BGN Sudaryono yang menutup sekitar 1.300 SPPG karena dinilai belum memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
Menurut Luhut, penutupan tersebut merupakan bagian dari pengawasan untuk memastikan makanan yang diberikan melalui program MBG memenuhi standar dan aman dikonsumsi anak-anak.
Ia juga menyatakan Dewan Ekonomi Nasional berkomitmen membantu memperbaiki tata kelola program tersebut.
Salah satu bentuk dukungan yang disiapkan adalah memberikan rekomendasi strategis dan memperkuat digitalisasi sistem di BGN.
Digitalisasi diharapkan dapat membantu pemerintah memantau seluruh rantai pasok, mengawasi kualitas makanan, serta mengevaluasi kinerja setiap SPPG secara aktual dan transparan.
"Karena untuk kualitas gizi masa depan anak-anak Indonesia, tidak boleh main-main. Setiap rupiah uang rakyat harus dipastikan menjadi asupan bergizi dan menyehatkan bagi generasi penerus bangsa," jelas Luhut.
Pertemuan Luhut dan Sudaryono tersebut menyoroti pentingnya perbaikan tata kelola SPPG agar pelaksanaan program MBG tidak hanya mengejar jumlah dapur yang dibangun, tetapi juga memastikan lokasi, kualitas makanan, keamanan pangan, dan manfaat program tepat sasaran.* (d/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.