Mengeluh Mual dan Diare, 230 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan Usai Santap MBG
PATI Ratusan siswa dan guru di dua sekolah menengah pertama di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, diduga mengalami keracuna
PERISTIWA
ACEH UTARA — Menyempitnya kawasan hutan membuat ruang jelajah gajah di lanskap Cot Girek, Aceh Utara, semakin terbatas.
Kondisi ini menyebabkan habitat, jalur pergerakan, dan ruang mencari pakan satwa tersebut semakin beririsan dengan aktivitas masyarakat.
Situasi itu menjadi salah satu tantangan dalam upaya menjaga keberlangsungan populasi gajah sekaligus mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar.Baca Juga:
Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO) bersama Lembaga Pembelaan Lingkungan Hidup dan Hak Asasi Manusia (LPLHa) menjalankan program konservasi di Gampong Peureupok, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara.
Program tersebut mencakup mitigasi konflik manusia dan satwa liar, pengembangan Biodiversity Camp Center, serta restorasi lahan kritis.
Kegiatan ini diarahkan untuk membantu memulihkan ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati di lanskap Cot Girek, termasuk mendukung ruang jelajah gajah.
Selain restorasi, para pihak menyusun peta jalan penyelesaian konflik manusia dan gajah.
Peta jalan tersebut diharapkan menjadi acuan dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
PHE NSO bersama sejumlah pemangku kepentingan meresmikan Biodiversity Camp Center di Gampong Peureupok, Kecamatan Paya Bakong, pada akhir Agustus 2026.
Fasilitas tersebut dikembangkan untuk memperkuat edukasi, pemantauan, dan kolaborasi dalam kegiatan konservasi di kawasan Cot Girek.
Program ini melibatkan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, LPLHa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Aceh Utara, M. Nasir, mengatakan kolaborasi menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan hutan.
"Aspek kolaborasi sangat penting dalam upaya melakukan restorasi dan menjaga hutan. Masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan juga memiliki peran penting dalam memastikan perlindungan lingkungan," ujar Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Aceh Utara, M. Nasir pada saat meresmikan Biodiversity Camp Center Agustus yang lalu di Gampong Peurupok, Kec. Paya Bakong.
Menurut M. Nasir, kawasan hutan memiliki fungsi yang lebih luas.
Selain menjadi habitat flora dan fauna, hutan juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
"Kawasan ini bukan sekadar menjadi habitat berbagai satwa seperti gajah dan tumbuhan, tetapi juga ruang kehidupan masyarakat di lokasi. Karena itu, keseimbangan harus dijaga bersama," ujar M. Nasir.
PHE NSO dan LPLHa telah menjalankan program konservasi tersebut sejak 2023.
Sejumlah kegiatan dilakukan, antara lain patroli dan mitigasi konflik manusia dengan satwa liar.
Program tersebut juga mencakup pengembangan Biodiversity Camp Center dan restorasi lahan melalui penanaman pohon dengan melibatkan masyarakat serta petani lokal.
Field Manager PHE NSO Riski Kushardani mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program konservasi.
"Penanaman pohon merupakan langkah nyata untuk memperkuat pemulihan ekosistem dan menjaga habitat berbagai satwa di kawasan tersebut," ujarnya.
PHE NSO secara berkelanjutan melakukan penanaman berbagai jenis pohon endemik yang dipilih untuk mendukung keanekaragaman hayati di lanskap Cot Girek.
Penanaman tersebut diharapkan membantu memulihkan habitat dan memperkuat ruang jelajah satwa liar, termasuk gajah.
"Pengelolaan keanekaragaman hayati tidak dapat hanya berfokus pada perlindungan satwa. Upaya tersebut juga harus berjalan seiring dengan perlindungan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat," ungkap Riski.
Melalui kerja sama pemerintah, perusahaan, lembaga konservasi, dan masyarakat, restorasi lanskap Cot Girek diharapkan tidak berhenti pada pemulihan lahan kritis.
Program tersebut juga diarahkan untuk membangun keseimbangan antara kelestarian ekosistem dan kehidupan masyarakat.
PT Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO) merupakan bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1 (Pertamina Hulu Rokan Zona 1).
PHE NSO menjalankan kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di lepas pantai timur laut Sumatera, tepatnya di Selat Malaka, Provinsi Aceh.
Basis dukungan operasional darat PHE NSO berada di Kota Lhokseumawe.*(ad)
PATI Ratusan siswa dan guru di dua sekolah menengah pertama di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, diduga mengalami keracuna
PERISTIWA
JAKARTA Ketua DPP PDIP Deddy Y Sitorus menilai Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY masih harus bekerja keras j
POLITIK
SERDANG BEDAGAI Tabrakan maut terjadi di ruas Tol MedanTebing Tinggi, tepatnya di Kilometer 54.700 Jalur A, Desa Melati, Kecamatan Pega
PERISTIWA
JAKARTA Badan Gizi Nasional (BGN) melarang penggunaan susu kental manis, minuman rasa susu, hingga produk minuman yang mengandung susu d
NASIONAL
ACEH BARAT Bagi warga Gampong Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, nipah bukan sekadar tumbuhan yang tumbuh di rawa pes
SENI DAN BUDAYA
BANDA ACEH Kasus dugaan pencurian barang berharga milik keluarga pasien di Rumah Sakit (RS) Harapan Bunda, Banda Aceh, berakhir damai. P
HUKUM DAN KRIMINAL
TANJAB TIMUR Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Tanjung Jabung Timur menggelar Rapat Koordinasi Forum Koordinasi Pimpina
NASIONAL
TAKENGON Personel Polres Aceh Tengah, Polda Aceh, menyisir sejumlah kawasan yang dinilai rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di w
NASIONAL
ACEH UTARA Menyempitnya kawasan hutan membuat ruang jelajah gajah di lanskap Cot Girek, Aceh Utara, semakin terbatas. Kondisi ini menyeb
NASIONAL
MEDAN Harga jagung di tingkat petani di Sumatera Utara masih bertahan tinggi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong kenai
EKONOMI