Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Soeharto dalam wawancara tersebut mengatakan Latief tidak menyampaikan informasi mengenai rencana penculikan. Ia bahkan menyebut Latief memiliki niat untuk membunuhnya, tetapi mengurungkan niat karena berada di tempat umum.
Sementara dalam autobiografinya yang terbit pada 1988, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto memberikan keterangan berbeda. Ia mengatakan hanya melihat Latief dari kejauhan dan tidak sempat berbicara dengannya.
Perbedaan keterangan tersebut kemudian menjadi salah satu bahan pembahasan dalam kajian mengenai peran Soeharto menjelang dan setelah peristiwa G30S.
Soeharto dan Peristiwa G30S
Saat G30S terjadi, Soeharto berpangkat mayor jenderal dan menjabat Pangkostrad. Posisi tersebut membuatnya menjadi salah satu perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang tidak menjadi sasaran penculikan.
Sejumlah sejarawan kemudian memiliki tafsir berbeda mengenai posisi Soeharto dalam peristiwa tersebut.
Sejarawan WF Wertheim, sebagaimana dikutip dalam sumber tersebut, pernah berpendapat bahwa Soeharto memiliki kemungkinan berada dalam pihak yang berkomplot. Tafsir itu dikaitkan dengan ketidakpuasan Soeharto terhadap kepemimpinan TNI Angkatan Darat serta konflik politik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Dalam pandangan Wertheim, G30S kemudian dapat dimanfaatkan untuk melemahkan pimpinan TNI AD sekaligus memberikan alasan bagi tindakan terhadap PKI.
Namun, pandangan mengenai keterlibatan Soeharto dalam G30S merupakan bagian dari perdebatan historiografi dan memiliki tafsir yang berbeda di antara para sejarawan.
Peristiwa G30S sendiri terjadi pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965. Enam jenderal dan seorang perwira TNI AD menjadi korban penculikan dan kemudian ditemukan tewas di kawasan Lubang Buaya, Jakarta.
Setelah peristiwa tersebut, Soeharto mengambil peran penting dalam penanganan situasi politik dan militer. Pada perkembangan berikutnya, ia menjadi Pejabat Presiden pada 1967 dan Presiden Republik Indonesia pada 1968 hingga 1998.
Dengan demikian, kesaksian Kolonel Abdul Latief mengenai Soeharto sebelum G30S menjadi salah satu sumber yang terus diperdebatkan. Sementara itu, keterangan Soeharto mengenai pertemuannya dengan Latief juga tercatat berbeda dalam sejumlah sumber.* (k/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.