BREAKING NEWS
Minggu, 09 Agustus 2026

Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026, John Herdman Dinilai Belum Pahami Karakter Sepak Bola ASEAN

Dharma - Minggu, 09 Agustus 2026 10:57 WIB
Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026, John Herdman Dinilai Belum Pahami Karakter Sepak Bola ASEAN
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman. (foto: Dok. PSSI)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Timnas Indonesia gagal melaju ke semifinal ASEAN Championship 2026 atau Piala AFF 2026.

Skuad Garuda hanya mampu finis di peringkat ketiga Grup A setelah bermain imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8/2026) malam WIB.

Hasil tersebut membuat Indonesia tersingkir dari turnamen setelah menjalani seluruh pertandingan fase grup.

Baca Juga:

Kegagalan ini kembali menjadi sorotan karena Timnas Indonesia harus mengakhiri perjuangan di fase grup.

Dari empat pertandingan, Indonesia meraih dua kemenangan, masing-masing atas Kamboja dan Timor Leste.

Skuad Garuda kemudian bermain imbang melawan Singapura dan kalah 0-3 dari Vietnam.

Kegagalan tersebut juga membuat perhatian tertuju kepada pelatih Timnas Indonesia, John Herdman.

Pengamat sepak bola nasional Ibam Hariri menilai Herdman masih belum memahami secara utuh karakter persaingan sepak bola di Asia Tenggara.

Salah satu pertandingan yang menjadi sorotan adalah ketika Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam.

Menurut Ibam, Herdman tidak mampu mengantisipasi strategi yang diterapkan pelatih Vietnam, Kim Sang-sik.

"John Herdman belum terlalu memahami bagaimana karakteristik persaingan di level Asia Tenggara, khususnya ketika menghadapi Vietnam."

"John Herdman benar-benar masuk perangkap Kim Sang-sik, di-outclass oleh Vietnam, dan begitu buntu," kata Ibam Hariri, Sabtu (8/8/2026).

Indonesia memang sempat menguasai jalannya pertandingan. Namun, penguasaan tersebut tidak banyak menghasilkan peluang yang efektif.

Di sisi lain, lini pertahanan Indonesia justru beberapa kali kehilangan koordinasi.

Tiga gol Vietnam disebut menjadi gambaran adanya celah yang mampu dimanfaatkan lawan.

Ibam juga menyoroti penampilan Indonesia dalam dua pertandingan terakhir menghadapi Vietnam dan Singapura.

Menurut dia, hasil imbang 1-1 melawan Singapura menunjukkan permainan Indonesia belum cukup matang untuk menghadapi pertandingan yang menentukan.

"Karena dari kekalahan menghadapi Vietnam, dari hasil imbang menghadapi Singapura, terlihat bentuk permainan Indonesia begitu mentah," sambungnya.

Menurut Ibam, masalah bukan hanya berada pada hasil akhir. Ia melihat skuad Garuda seperti belum memiliki pola permainan yang benar-benar solid.

Indonesia juga dinilai belum memiliki alternatif strategi yang berjalan efektif ketika rencana utama tidak berhasil.

"(Timnas) seperti tim yang belum mengenal satu sama lain, plan A, plan B, plan C-nya tidak berjalan, bahkan adjustment in-game, timing pergantian pemain, pemosisian pemain, dan pemilihan fungsi serta role pemain di atas lapangan nampak tidak sinkron dengan apa yang menjadi visi dari John Herdman," ujarnya.

Ibam kemudian menyoroti keputusan Herdman dalam menempatkan sejumlah pemain.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan Jordi Amat sebagai pemain sentral dalam skema tiga bek.

Ia membandingkan posisi Jordi Amat dan Rizky Ridho ketika keduanya bermain untuk Persija Jakarta.

"Menaruh Jordi Amat sebagai sentral di skema 3-back dengan memainkan Rizky Ridho sebagai wide centerback sebelah kanan itu tidak sinkron karena hal tersebut kurang berjalan bersama Persija Jakarta di musim lalu ketika di bawah asuhan Maurizio Souza."

Menurut Ibam, pola tersebut seharusnya dapat dievaluasi ketika tidak memberikan hasil yang diharapkan.

"Tapi sayangnya memang John Herdman masih kekeh dengan pola tersebut, bahkan mempertahankan pola tersebut hingga 70 atau 80 menit."

Ia juga menilai posisi Jordi Amat sebelumnya lebih efektif ketika bermain sedikit lebih maju.

"Selain itu, yang tidak masuk akal karena Jordi Amat di Persija musim lalu pun lebih works ketika dirinya maju lebih sedikit ke depan sebagai gelandang bertahan."

"Ketika memaksa Rizky Ridho bermain setinggi itu di area wide centerback tentu menjadi boomerang," tegasnya.

Tersingkirnya Indonesia dari fase grup membuat evaluasi terhadap permainan dan strategi menjadi pekerjaan penting bagi tim kepelatihan.

Masalah koordinasi pertahanan, efektivitas serangan, penempatan pemain, hingga kemampuan mengubah strategi ketika pertandingan berjalan menjadi sejumlah aspek yang disorot.

Di sisi lain, Herdman sebelumnya tetap menilai Indonesia mampu mendominasi pertandingan melawan Singapura meski hasil akhirnya hanya imbang 1-1.

Kegagalan di Piala AFF 2026 menjadi pengalaman penting bagi skuad Garuda, terutama karena turnamen ini menjadi salah satu kesempatan untuk menguji kekuatan pemain di level Asia Tenggara.

Bagi tim pelatih, hasil tersebut juga menjadi bahan evaluasi untuk membangun permainan yang lebih solid dan konsisten pada agenda Timnas Indonesia berikutnya.* (km/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026, John Herdman Bidik Kebangkitan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup
Rekor Kelam Garuda: 6 Kali Runner Up, 6 Kali Pulang Cepat dari Piala AFF
Gagal ke Semifinal, Erick Thohir Janji Bongkar Total Evaluasi Timnas
Garuda Angkat Koper dari Piala AFF, Herdman: Kami Sudah Dominan tapi Nasib Berkata Lain
Timnas Indonesia Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026, Rizky Ridho: Kami Kecewa, Suporter Lebih Kecewa
Curhat Prabowo: Penduduk RI Ratusan Juta, Tembus Piala Dunia Saja Tak Mampu
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru