BREAKING NEWS
Kamis, 01 Oktober 2026

Agar Bahasa Daerah Tidak Menjadi Yatim di Negeri Sendiri

- Jumat, 23 Mei 2025 07:55 WIB
Agar Bahasa Daerah Tidak Menjadi Yatim di Negeri Sendiri
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Bahkan, dalam FTBIN tahun 2025 ini, sebanyak 114 pelajar dari 38 provinsi tampil membawakan karya dalam bahasa daerahnya masing-masing. Momen ini adalah bukti bahwa anak-anak Indonesia masih ingin dan bisa menuturkan bahasanya—asal diberi ruang.

Namun, revitalisasi tidak cukup hanya melalui festival tahunan. Kita butuh ekosistem yang memungkinkan bahasa daerah hadir dalam pendidikan, media, dan dunia digital.

Oleh karena itu, Badan Bahasa berupaya mendorong penguatan kurikulum berbasis bahasa daerah, pelatihan guru secara sistematis, dan pemanfaatan teknologi pembelajaran untuk menjangkau generasi digital. Di sisi lain, pemerintah daerah juga didampingi agar dapat menyusun regulasi yang memastikan keberlangsungan pelajaran bahasa daerah sebagai bagian dari kebijakan otonomi pendidikan dan kebudayaan.

Kolaborasi Lintas Sektor: Siapa Bertanggung Jawab?

Revitalisasi tidak boleh menjadi tanggung jawab satu lembaga. Dunia pendidikan, media, komunitas kreatif, pelaku teknologi, bahkan dunia usaha, harus turut ambil bagian. Konten lokal dalam bahasa daerah di media sosial, siniar budaya, siniar (podcast) lokal, hingga animasi berbahasa ibu bisa menjadi jembatan antara bahasa warisan dan masa depan.

Salah satu tantangan terbesar adalah menjadikan bahasa daerah relevan kembali dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Untuk itu, strategi pelindungan harus berubah: dari pendekatan simbolik menjadi fungsional, dari eksklusif menjadi partisipatif.

Dari Dokumentasi ke Demokratisasi

Upaya pelindungan bahasa selama ini sering terjebak pada pendekatan dokumentatif: merekam, mencatat, dan mengarsipkan. Meski urgen, dokumentasi tidak cukup jika bahasa tidak kembali dihidupi dalam praktik sosial. Di sinilah pentingnya pergeseran pendekatan ke arah demokratisasi bahasa—yakni menjadikan bahasa daerah sebagai alat yang dipakai, dirayakan, dan dikembangkan oleh komunitasnya sendiri.

Penggunaan teknologi membuka jalan untuk ini. Pengembangan kamus digital, platform pembelajaran daring, serta penggunaan kecerdasan buatan untuk pengenalan suara dan sintesis ujaran telah dilakukan di berbagai negara untuk bahasa minoritas. Indonesia tidak boleh tertinggal. Sudah saatnya kementerian, universitas, komunitas digital, dan sektor teknologi bergandeng tangan mengembangkan solusi yang berbasis data, terbuka, dan inklusif untuk pelestarian bahasa daerah.

FTBIN adalah contoh bagaimana bahasa daerah dapat hadir dalam ruang ekspresi publik yang kreatif dan membanggakan. Namun, agar dampaknya berkelanjutan, festival ini harus dikaitkan dengan kebijakan pendidikan, dukungan infrastruktur bahasa, dan kesinambungan peran pemerintah daerah.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru