Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Oleh:Tantan Taufiq Lubis.
DARI Soekarno hingga
Prabowo, setiap kehadiran Pemimpin mencerminkan Zeitgeist (semangat zaman) eranya, sekaligus visi sang
pemimpin terhadap peran
Indonesia di dunia.
Baca Juga:
Hari ini, 23 September 2025 Presiden
Prabowo akan Menyampaikan
Pidato Dalam Sesi Debat
Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, ini bukan sekadar acara protokoler tahunan Bagi seorang
pemimpin dunia, Ia membawa makna strategis dan simbolis yang sangat dalam, baik untuk posisi
Indonesia di panggung global, juga khususnya bagi Presiden
Indonesia yang baru saja menjabat seperti
Prabowo Subianto, forum ini merupakan panggung diplomasi multilateral yang paling strategis dan bergengsi.Kehadiran seorang presiden di
Sidang Umum PBB memiliki makna yang jauh melampaui sekadar menyampaikan pidato, ia adalah sebuah pernyataan
politik, sebuah momentum untuk membentuk narasi, meneguhkan gerakan diplomasi dan sebuah kesempatan langka untuk memperjuangkan kepentingan nasional di hadapan seluruh dunia.
Tampil di hadapan 193 negara sebagai kepala negara yang diakui secara internasional akan memperkuat legitimasi dan wibawanya di mata rakyat
Indonesia. Ini menunjukkan bahwa dunia menerima dan menghormati hasil proses demokrasi
Indonesia dan ke
pemimpinannya. Inilah yang kemudian kita namakan sebagai Gerakan sistematis Mengonsolidasikan Legitimasi dan Otoritas Domestik.Di tengah dunia yang penuh gejolak (perang, ketegangan geo
politik, resesi), kehadiran
pemimpin dari negara demokrasi terbesar ketiga di dunia yang relatif stabil dan ekonominya mulai tumbuh adalah pesan yang kuat.
Indonesia hadir bukan sebagai sumber masalah, tetapi sebagai bagian dari solusi dan penjaga stabilitas.
Prabowo datang bukan hanya sebagai
pemimpin Indonesia, tetapi juga sebagai representasi dari suara negara-negara berkembang atau Global South Countries,
ASEAN, dan dunia Muslim yang moderat.
Pidatonya akan menjadi instrument untuk memperkuat posisi
Indonesia sebagai kekuatan menengah (middle power) yang dapat menjembatani kepentingan berbagai blok negara.Tentunya ini akan Mengerek Status
Indonesia sebagai Middle Power dan Global Swing State. Bagi Presiden
Prabowo,
Sidang Umum PBB 2025 akan menjadi debut globalnya yang paling resmi, meski sebelumnya telah menghadiri forum APEC di Peru, G20 dan BRICS di Brazil serta
ASEAN Summit di Malaysia.
Lima tahun ke belakang, dunia internasional mengenalnya sebagai Menteri Pertahanan dengan pendirian yang tegas. Kini,
Prabowo tampil sebagai Kepala Negara dari negara demokrasi terbesar ketiga dan kekuatan ekonomi utama G20.
Pidato pertamanya di mimbar
PBB adalah kesempatan untuk mentransformasi persepsi internasional dari figur militer menjadi seorang negarawan global yang visioner.Kehadirannya memberikan legitimasi dan pengakuan de facto dari komunitas internasional terhadap ke
pemimpinannya, memperkuat posisinya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mimbar
Sidang Umum PBB adalah medium terbaik untuk mendemonstrasikan komitmen
Indonesia pada
politik luar negeri "bebas dan aktif" bukan hanya dalam retorika, tetapi dalam tindakan.
Di tengah polarisasi global akibat isu Palestina, perang Rusia-Ukraina, ketegangan AS-China, dan krisis lainnya, dunia menanti posisi dan peran nyata
Indonesia. Presiden
Prabowo dapat menggunakan kesempatan ini untuk menegaskan bahwa
Indonesia tidak akan masuk dalam blokmana pun, tetapi akan aktif menjadi jembatan perdamaian dan penengah konflik.Dengan menyampaikan pesan perdamaian, keadilan, dan kerja sama dari podium yang sama yang pernah digunakan oleh Bung Karno puluhan tahun lalu,
Prabowo dapat menghubungkan diri dengan tradisi besar diplomasi
Indonesia sekaligus menawarkan sudut pandang
Indonesia untuk menyelesaikan masalah global.
Sidang Umum PBB adalah "pasar dunia" bagi kepentingan nasional. Bagi
Indonesia, setidaknya ada tiga kepentingan utama yang bisa diperjuangkan yaitu :• Kepentingan Politik : Dukungan untuk Palestina adalah prinsip dasar diplomasi
Indonesia.
Pidato di
Sidang Umum PBB adalah momentum untuk tidak hanya mengulang komitmen tetapi untuk menggalang dukungan internasional yang lebih konkret, mungkin dengan menawarkan inisiatif perdamaian baru atau mengecam ketidakadilan yang terus berlangsung. Ini juga peluang untuk memperkuat ke
pemimpinan
Indonesia di
ASEAN dan memperjuangkan isu-isu kawasan seperti di Laut China Selatan.
• Kepentingan Ekonomi: Forum ini adalah ajang soft diplomacy ekonomi yang sangat efektif. Pertemuan bilateral dengan para
pemimpin negara dan CEO perusahaan global di sela-sela sidang dapat digunakan untuk mempromosikan investasi, terutama dalam proyek strategis nasional seperti hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur dan transisi energi.
Prabowo dapat mempresentasikan
Indonesia sebagai destinasi yang stabil dan menjanjikan di tengah gejolak ekonomi global.• Kepentingan Strategis: Isu-isu seperti perubahan iklim, krisis pangan, dan tata kelola keuangan global adalah concern seluruh bangsa. Dengan menyuarakan solusi dan komitmen
Indonesia,
Prabowo dapat memosisikan
Indonesia bukan hanya sebagai objek, tetapi sebagai subjek yang aktif membentuk arsitektur global yang lebih adil.
Ini sejalan dengan visinya untuk membawa
Indonesia menjadi negara yang disegani. Nilai praktis terbesar dari kehadiran Presiden
Prabowo ke General Assembly of United Nation di New York terletak pada pertemuan-pertemuan di sela-sela sidang. Dalam beberapa hari, seorang presiden dapat bertemu dengan Ratusan
pemimpin dunia yang hampir mustahil dijumpai dalam waktu singkat di tempat lain.Network building ini sangat berharga untuk membangun hubungan pribadi (personal chemistry) yang seringkali menjadi kunci dalam menyelesaikan masalah diplomatik atau kesepakatan dagang di masa depan. Bagi
Prabowo, ini adalah kesempatan emas untuk tidak hanya sekedar memperkenalkan diri, namun lebih dari itu Adalah untuk membangun kepercayaan, dan menciptakan aliansi-aliansi strategis baru untuk
Indonesia dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional.
Bagi Presiden
Prabowo, kehadiran di
Sidang Umum PBB adalah sebuah keharusan strategis. Ini lebih dari sekadar kewajiban protokoler, ini adalah investasi
politik dan ekonomi untuk masa jabatannya.
Pidato di podium hijau
PBB adalah pengumuman resmi kepada dunia bahwa
Indonesia di bawah ke
pemimpinannya siap untuk memainkan peran yang lebih besar dan lebih vokal dalam percaturan global.Keberhasilan memanfaatkan momen ini bukan diukur dari sambutan atas pidatonya, tetapi dari seberapa efektif ia dapat menerjemahkan kehadiran simbolis itu menjadi
legitimasi
politik, kemitraan strategis, dan keuntungan yang nyata bagi rakyat
Indonesia. Kegagalan untuk tampil dengan kuat di panggung ini bukanlah sebuah opsi, karena dunia akan melihat dan menarik kesimpulannya sendiri tentang tempat
Indonesia di bawah ke
pemimpinan yang baru.
Konteks Historis Kehadiran Presiden Soekarno hingga Prabowo di Sidang Umum PBB
Kehadiran presiden
Indonesia yang baru terpilih di
Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (
PBB) bukanlah sekadar kunjungan kerja biasa. Tradisi ini telah berevolusi menjadi ritual diplomatik yang sarat makna, sebuah pernyataan resmi pertama di panggung global yang menandakan arah
politik luar negeri seorang
pemimpin baru.Dari Soekarno hingga
Prabowo, setiap kehadiran mencerminkan semangat zaman eranya sekaligus visi sang
pemimpin terhadap peran
Indonesia di dunia. Kehadiran Presiden
Indonesia di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) selalu menjadi momen strategis untuk memproyeksikan suara, kedaulatan, dan kepentingan nasional
Indonesia di panggung global.
Setiap era ke
pemimpinan membawa motivasi dan isu yang berbeda, mencerminkan dinamika
politik domestik dan geo
politik global pada masanya. Dalam Sejarahnya Presiden Pertama
Indonesia Bung Karno hadir di
PBB bukan sebagai peserta biasa, melainkan sebagai pembentuk narasi global.
Pidato legendarisnya "To Build The World A New" pada 30 September 1960 adalah masterpiece diplomasi.Dalam suasana Perang Dingin, ia tidak hadir untuk mencari legitimasi, tetapi justru memberikan legitimasi kepada
PBB dengan menyuarakan suara negara-negara baru merdeka (New Emerging Forces/NEFOS). Kehadirannya adalah perlawanan terhadap status quo (Old Established Forces/OLDEFOS) dan deklarasi bahwa
Indonesia adalah kekuatan moral dan
politik yang harus diperhitungkan. Bagi Soekarno, Majelis
PBB adalah panggung untuk revolusi.Berbeda dengan pendahulunya, Presiden Soeharto menggunakan podium
Sidang Umum PBB untuk memproyeksikan image
Indonesia sebagai negara yang stabil, damai, dan sedang membangun, peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Setelah gejolak tahun 1965, kehadiran Soeharto bertujuan meyakinkan dunia bahwa
Indonesia aman bagi investasi dan menjadi partner yang bertanggung jawab dalam komunitas internasional.
Pidato-pidatonya seringkali berfokus pada pembangunan ekonomi, kerja sama Selatan-Selatan, dan stabilitas kawasan, terutama setelah invasi ke Timor Timur pada 1975 yang membuatnya harus berdiplomasi untuk membela kebijakannya di forum global.
Zaman Soeharto Adalah Era Stabilisator dan Pembangunan Ekonomi. Sementara di Era Pasca-Reformasi 1998, kehadiran presiden
Indonesia di
Sidang Umum PBB memiliki makna rekonsiliasi dan reintegrasi.Saat Presiden B.J. Habibie Memimpin, beliau hadir untuk meyakinkan dunia tentang transisi demokrasi
Indonesia pasca-Soeharto. Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membawa semangat pluralism, Co-eksisten dan perdamaian, mencerminkan identitas baru
Indonesia.
Sementara Presiden Megawati Soekarnoputri hadir dalam atmosfer pasca tragedy 9/11 dan menyatakan perang
Indonesia terhadap radikalisme dan terorisme, sekaligus menegaskan bahwa Islam dan demokrasi dapat berjalan beriringan.Masa ini adalah era dimana
Indonesia berusaha membersihkan nama dan kembali dipercaya sebagai anggota masyarakat internasional yang demokratis.Kemudian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadikan kehadirannya di
Sidang Umum PBB sebagai panggung untuk mempromosikan peran
Indonesia sebagai "jembatan" dan "juru damai" global. Dengan percaya diri, ia menyuarakan isu-isu seperti dialog antaragama, demokrasi, dan perdamaian.
Di bawah ke
pemimpinannya,
Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti percakapan global, tetapi aktif membentuknya. Kehadiran SBY adalah puncak dari diplomasi soft power
Indonesia, yang berhasil mendapatkan pengakuan internasional dan bahkan sempat digadang-gadang untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan
PBB.Dan Presiden Joko Widodo membawa gaya yang berbeda.
Pidato pertamanya di
PBB yang berjudul "Dari Desa ke
PBB", mencerminkan fokusnya yang konkret dan pragmatis. Podium
PBB dimanfaatkan untuk diplomasi ekonomi. Ia lebih banyak membahas kerja sama pembangunan, investasi, infrastruktur, dan isu-isu praktis seperti perubahan iklim dan kelapa sawit.
Kehadiran selanjutnya Via Online Presiden Jokowi menggunakan Majelis
PBB sebagai panggung untuk meyakinkan investor global dan mempromosikan kepentingan nasional yang sangat teknis pasca Wabah Covid19. Gaya ini menunjukkan evolusi prioritas
Indonesia dari
politik ideologis ke ekonomi-pragmatis, dan semua dilakukan melalui komunikasi DaringKini, Presiden
Prabowo Subianto akan mengikuti tradisi kehadiran di
Sidang Umum PBB ini dalam konteks dunia yang sangat berbeda, Dalam situasi perang di Eropa, ketegangan AS-China, krisis iklim, dan ketidakpastian ekonomi global.
Prabowo dapat dikatakan berada Di Persimpangan Sejarah, Tentu kehadirannya akan dibaca publik melalui dua lensa:
1. Kontinuitas: Apakah ia akan meneruskan tradisi
politik luar negeri "bebas-aktif" dan komitmen pada multilateralisme seperti para pendahulunya.2. Perubahan: Sebagai mantan jenderal dengan visi yang sering disebut lebih nasionalis dan tegas, apakah ia akan membawa gaya dan substansi baru yang lebih ofensif dalam memperjuangkan kepentingan nasional.
Dunia akan memperhatikan, Akankah ia mengikuti jejak Soekarno dengan retorika yang vokal dan berani? Atau mengadopsi pendekatan SBY sebagai juru damai? Ataukah melanjutkan gaya pragmatis Jokowi dengan fokus pada ekonomi.
Yang Pasti Tradisi kehadiran presiden
Indonesia di
Sidang Umum PBB adalah cermin dari evolusi bangsa. Dari revolusioner (Soekarno), ke stabilisator (Soeharto), ke reformis (Habibie - Gusdur - Megawati), ke juru damai global (SBY), hingga ekonomi pragmatis (Jokowi). Setiap pidato perdana adalah halaman pertama dari babakbaru diplomasi
Indonesia.
Bagi
Prabowo, tradisi ini adalah beban sekaligus kesempatan. Beban karena ia akan dibandingkan dengan para pendahulunya. Kesempatan karena ia dapat mendefinisikan ulang peran
Indonesia di panggung dunia yang sedang kacau, dan menyatakan kepada dunia: "Inilah
Indonesia yang saya pimpin, dan inilah kontribusi kami untuk tatanan global." Kehadirannya bukan hanya tentang
Prabowo, melainkan tentang penempatan
Indonesia di persimpangan sejarah dunia abadke-21.
Perspektif Politik Domestik: Legitimasi, Transisi, dan Rekonsiliasi
Kehadiran Presiden
Prabowo Subianto pada
Sidang Umum PBB 23 September 2025 adalah sebuah momen strategis multidimensi yang terjadi di persimpangan jalan yang genting, baik bagi
Indonesia maupun dunia. Untuk memahaminya, kita harus meninjaunya melalui dua lensa yang beririsan, yaitu dinamika
politik dalam negeri dan badai geo
politik global.Bagi
Prabowo secara pribadi, kehadiran ini adalah puncak dari transformasi
politiknya. Dari figur oposisi yang sering kali kontroversial dan terasing dari kekuasaan, kini ia berdiri sebagai Kepala Negara yang diakui dunia. Ini adalah bagian krusial dari proses legitimasi sekunder. Legitimasi primer ia dapatkan melalui kotak suara. Kini, ia membutuhkan pengakuan dari komunitas internasional untuk memperkuat posisinya di dalam negeri, terutama di mata para pengkritik yang
masih meragukan kredibilitasnya.Momen ini juga menjadi ujian pertama ke
pemimpinan diplomatiknya. Selama ini, publik lebih familiar dengan narasi
Prabowo yang tegas, nasionalis, dan cenderung populis. Di Majelis
Sidang Umum PBB, ia harus menunjukkan wajah yang berbeda, seorang negarawan yang kalem, visioner, dan mampu bicara dalam bahasa diplomasi yang tinggi. Kesuksesannya di panggung ini akan digunakan untuk membungkus seluruh agenda pemerintahannya yang beberapa di antaranya mungkin berat secara politis dengan mantel "dukungan internasional" dan "kepentingan nasional yang diakui dunia".
Terakhir, ini adalah kesempatan untuk rekonsiliasi simbolis. Dengan menyampaikan pesan perdamaian dan kerja sama di Majelis Siang Umum
PBB, ia dapat membangun citra sebagai
pemimpin seluruh bangsa
Indonesia, bukan hanya koalisi pendukungnya, dan menjauhkan diri dari bayang-bayang masa lalu
Perspektif Global: Berlayar di Tengah Badai Geopolitik
Prabowo tidak akan berbicara ke dalam ruang hampa.
Dunia yang ia sambut pada tahun 2025 adalah dunia yang lebih terfragmentasi, sangat dinamis yang cenderung tidak aman, dan tidak pasti daripada era presiden-presiden sebelumnya.
Dunia terbelah oleh Perang Rusia-Ukraina dan ketegangan AS-China yang makin menjadi. Pilihan bagi negara menengah seperti
Indonesia semakin sulit.
Pidato Prabowo akan menjadi kompas pertama arah
politik luar negerinya. Akankah ia mengambil sikap lebih vokal terhadap salah satu pihak, atau justru memperkuat posisi "bebas-aktif" dengan menjadi juru bicara bagi negara-negara non-blok yang tidak ingin terperangkap dalam persaingan kekuatan adidaya.
Dunia akan mencermati setiap kata-katanya untuk mencari petunjuk dan di analisis. Ketegangan di Laut China Selatan, khususnya, adalah isu where rhetoric will matter greatly.
Polarisasi Global tentunya akan menjadi tantangan tersendiri bagi Ke
pemimpinan Diplomasi
Prabowo PBB sendiri sedang mengalami krisis legitimasi. Dewan Keamanan yang lumpuh menghadapi perang di Ukraina dan Gaza adalah buktinya.
Prabowo harus menyuarakan dukungan untuk multilateralisme, tetapi juga harus berani menyerukan reformasi
PBB. Ini adalah jalan yang sempit, bagaimana mengkritik tanpa merusak, dan bagaimana mendorong perubahan tanpa dilihat sebagai pihak yang merongrong kewenangan institusi global. Ini akan menjadi Ujian Komitmen pada Prinsip Multilateralisme Dukungan
Indonesia untuk Palestina adalah litmus test bagi integritas
politik luar negeri
Indonesia. Di tengah tragedi kemanusiaan genosida, kebuntuan perundingan dan penderitaan yang makin dalam di Gaza, dunia mengharapkan lebih dari sekadar pernyataan support biasa.Mereka akan melihat apakah
Prabowo dengan latar belakang militernya dan hubungan dekat dengan negara-negara Arab dapat menawarkan sesuatu yang baru, mungkin sebuah inisiatif diplomatik atau seruan yang lebih konkret untuk pengakuan kedaulatan Palestina. Kegagalan untuk bersikap kuat pada isu ini akan dilihat sebagai pengkhianatan terhadap sejarah panjang diplomasi
Indonesia.
Prabowo akan berbicara setelah para
pemimpin dunia lainnya. Ia harus memastikan pidatonya tidak tenggelam dalam retorika yang sudah usang. Fokus pada isu-isu "win-win" seperti transisi energi, ketahanan pangan, dan pembiayaan SDGs bisa menjadi strategi yang cerdas. Ini memungkinkan
Indonesia memproyeksikan ke
pemimpinan tanpa harus terlibat langsung dalam konflik geo
politik yang berdarah-darah.Mempromosikan Hilirisasi Industri sebagai proyek sustainability global adalah contoh bagaimana kepentingan nasional dan kontribusi global dapat disatukan.
Kehadiran Presiden
Prabowo di
Sidang Umum PBB adalah kesempatan emas yang berlapis ranjau. Secara domestik, ini adalah momen untuk membangun legasi, menunjukkan kapasitas, dan mengkonsolidasikan kekuasaan. Sukses di New York akan bergema di Jakarta, memperkuat posisinya untuk memimpin sebuah bangsa yang kompleks.Secara global, ini adalah ujian pertama dan terpenting bagi
Prabowo untuk membuktikan bahwa
Indonesia di bawah ke
pemimpinannya bukan hanya menjadi penonton, melainkan pemain aktif yang mampu menavigasi panggung internasional yang berbahaya dengan prinsip yang jelas dan strategi yang cerdik.
Dunia tidak membutuhkan pidato lain yang penuh dengan klise.
Dunia membutuhkan suara yang jelas, berani, dan visioner dari kekuatan demokrasi terbesar ketiga dunia bernama
Indonesia. Apakah
Prabowo akan menjadi suara itu? Jawabannya akan menentukan tidak hanya bagaimana dunia melihat
Indonesia untuk lima tahun ke depan, tetapi juga bagaimana
Indonesia menempatkan dirinya dalam sejarah yang sedang ia tulis. Kedatangan
Prabowo di
Sidang Umum PBB adalah momen penentu yang sukses secara simbolis.
Pidato yang tegas dan agenda bilateral yang padat berhasil mengirimkan sinyal bahwa
Indonesia hadir dengan percaya diri di panggung global. Namun, retorika di
PBB harus diikuti dengan aksi dan konsistensi.
Pidato yang vokal tentang Palestina harus diterjemahkan menjadi inisiatif diplomatik yang nyata. Seruan untuk reformasi
PBB harus dibarengi dengan lobi yang gigih.
Prabowo memiliki modal awal yang kuat, legitimasi elektoral yang solid, pengalaman di bidang pertahanan, dan gaya ke
pemimpinan yang decisif. Jika ia mampu menerjemahkan retorika globalnya menjadi kebijakan luar negeri yang konsisten, koheren, dan didukung oleh kekuatan ekonomi dan strategis dalam negeri, maka
Indonesia benar-benar siap untuk memainkan peran yang lebih besar dan lebih signifikan dalam percaturan geo
politik abad ke-21.Diplomasi tingkat tinggi (summit diplomacy) sering kali disalahtafsirkan sebagai sekadar seremonial mewah. Padahal, dalam konteks geo
politik modern yang digerakkan oleh media dan persepsi, ia adalah salah satu alat diplomasi yang paling kuat dan bernuansa. Kehadiran seorang
pemimpin di forum global seperti
Sidang Umum PBB bukanlah tujuan akhir; ia adalah sebuahproses kompleks symbolic politics di mana citra dibangun, legitimasi diperjuangkan, dan narasi bangsa dipahat di atas panggung dunia.
Tantangannya adalah menjembatani visi global yang ambisius dengan realitas kapasitas dan sumber daya domestik. Kesuksesan akhirnya akan diukur bukan dari sambutan atas pidatonya di New York, tetapi dari kemampuannya membawa kepulangan hasil nyata dari setiap pertemuan bilateral dan mewujudkannya untuk kepentingan rakyat
Indonesia.Bagi
Prabowo, memahami fungsi ganda
PBB ini adalah kunci. Kehadirannya di New York bukan tentang "pamer" atau memenuhi undangan. Itu adalah strategi pertukaran mata uang legitimasi dan soft power.
Indonesia datang dengan modal dukungan terhadap multilateralisme, rekam jejak sebagai anggota yang kontributif, dan posisi sebagai kekuatan demokrasi mayoritas Muslim terbesar.
Sebagai imbalannya,
Indonesia berharap untuk "mencairkan" modal ini menjadi legitimasi bagi ke
pemimpinan
Prabowo, dukungan untuk posisinya dalam isu-isu strategis, dan pengakuan atas peran barunya dalam tatanan global. Diplomasi multilateral melalui
PBB, meskipun sering dicaci karena birokrasinya yang lamban dan keputusannya yang sering tidak memuaskan, tetap merupakan game terbaik yang kita miliki untuk mengelola kompleksitas dunia yang semakin terpolarisasi.Bagi
Indonesia, ia adalah amplifier yang memperkuat suara nasional menjadi suara global. Bagi
Prabowo, ia adalah panggung untuk membuktikan bahwa
Indonesia bukan hanya peserta, tetapi juga pengarah arsitek masa depan tatanan dunia yang lebih inklusif dan adil. Tantangannya adalah tidak hanya memanfaatkan panggung ini untuk berbicara, tetapi juga membangun koalisi yang diperlukan untuk mewujudkan kata-kata itu menjadi tindakan nyata.
Diplomasi summit adalah teater tempat symbolic politics dimainkan dengan taruhan yang sangat tinggi. Setiap gerakan dari isi pidato, pilihan kata, hingga dengan siapa ia berfoto dikurasi dengan hati-hati untuk mengirim pesan tertentu. Namun, symbolic politics dalam diplomasi summit juga menyimpan bahaya besar. Risikoterbesarnya adalah kesenjangan antara citra dan realita (image-reality gap).
Jika retorika visioner tentang perdamaian, kolaborasi dan keadilan di
Sidang Umum PBB tidak diiringi dengan tindakan nyata dan konsisten, maka citra yang dibangun dengan mahal itu akan dengan cepat runtuh dan dilihat sebagai kemunafikan. Diplomasi summit bisa menjadi bumerang jika hanya dipandang sebagai photo opportunity belaka tanpa hasil substantive yang jelas bagi rakyat.*
(news.detik.com)*) Penulis adalahWakil Rektor Universitas Jakarta, Ketua Umum DPP KNPI, Founder OIC Youth dan Asian African Youth Government, Presiden World NYC Federation.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.