Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
baru diplomasi
Indonesia.
Bagi
Prabowo, tradisi ini adalah beban sekaligus kesempatan. Beban karena ia akan dibandingkan dengan para pendahulunya. Kesempatan karena ia dapat mendefinisikan ulang peran
Indonesia di panggung dunia yang sedang kacau, dan menyatakan kepada dunia: "Inilah
Indonesia yang saya pimpin, dan inilah kontribusi kami untuk tatanan global." Kehadirannya bukan hanya tentang
Prabowo, melainkan tentang penempatan
Indonesia di persimpangan sejarah dunia abadke-21.
Perspektif Politik Domestik: Legitimasi, Transisi, dan Rekonsiliasi
Kehadiran Presiden
Prabowo Subianto pada
Sidang Umum PBB 23 September 2025 adalah sebuah momen strategis multidimensi yang terjadi di persimpangan jalan yang genting, baik bagi
Indonesia maupun dunia. Untuk memahaminya, kita harus meninjaunya melalui dua lensa yang beririsan, yaitu dinamika
politik dalam negeri dan badai geo
politik global.Bagi
Prabowo secara pribadi, kehadiran ini adalah puncak dari transformasi
politiknya. Dari figur oposisi yang sering kali kontroversial dan terasing dari kekuasaan, kini ia berdiri sebagai Kepala Negara yang diakui dunia. Ini adalah bagian krusial dari proses legitimasi sekunder. Legitimasi primer ia dapatkan melalui kotak suara. Kini, ia membutuhkan pengakuan dari komunitas internasional untuk memperkuat posisinya di dalam negeri, terutama di mata para pengkritik yang
masih meragukan kredibilitasnya.Momen ini juga menjadi ujian pertama ke
pemimpinan diplomatiknya. Selama ini, publik lebih familiar dengan narasi
Prabowo yang tegas, nasionalis, dan cenderung populis. Di Majelis
Sidang Umum PBB, ia harus menunjukkan wajah yang berbeda, seorang negarawan yang kalem, visioner, dan mampu bicara dalam bahasa diplomasi yang tinggi. Kesuksesannya di panggung ini akan digunakan untuk membungkus seluruh agenda pemerintahannya yang beberapa di antaranya mungkin berat secara politis dengan mantel "dukungan internasional" dan "kepentingan nasional yang diakui dunia".
Terakhir, ini adalah kesempatan untuk rekonsiliasi simbolis. Dengan menyampaikan pesan perdamaian dan kerja sama di Majelis Siang Umum
PBB, ia dapat membangun citra sebagai
pemimpin seluruh bangsa
Indonesia, bukan hanya koalisi pendukungnya, dan menjauhkan diri dari bayang-bayang masa lalu
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.