Kita tidak lagi sekadar mengutip syair lama, tetapi menafsirkan dan menghidupkannya dalam kebijakan, pendidikan, dan perilaku publik.
Membangun Aceh berarti menakhodai perahu besar di tengah ombak zaman. Syair-syair klasik seperti Syair Perahu bukan sekadar karya sastra, melainkan kompas moral bagi perjalanan kolektif kita.
Selama kemudi lurus, dayung kuat, bekal cukup, dan arah dibimbing nilai, maka pelayaran ini akan sampai pada tujuan: Aceh yang damai, adil, dan makmur dalam bingkai peradaban Islami.*
*)Penulis adalahMahasiswa Program Doktor Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.