BREAKING NEWS
Sabtu, 26 September 2026

Energi, Soft Power, dan Kemandirian RI di Tengah Transisi Hijau ASEAN

Zulkarnain - Kamis, 09 Oktober 2025 10:32 WIB
Energi, Soft Power, dan Kemandirian RI di Tengah Transisi Hijau ASEAN
ASEAN membangun kerangka kerja sama energi melalui ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) yang kini memasuki fase II hingga 2025.(Foto: Quipper)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Kasus Indonesia misal, jika terbentur regulasi Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara), mayoritas bank swasta di Indonesia adalah bank penanaman modal asing regional, seperti CIMB, UOB, DBS, dan OCBC.

Dalam konteks ini, geoekonomi sedang bangkit sebagai kekuatan baru di Asia Tenggara. Negara-negara berlomba menegaskan peran strategisnya dalam rantai pasok energi global. Indonesia memiliki potensi besar melalui seabed mining, yakni eksplorasi mineral dasar laut yang dibutuhkan untuk baterai dan teknologi hijau.

Namun, potensi itu harus diimbangi dengan etika ekologis. Sebab, di dunia yang makin sadar lingkungan, kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa banyak sumber daya yang dimiliki, tetapi bagaimana sebuah negara mengelolanya dengan tanggung jawab.

Inilah bentuk soft power yang paling halus, pengaruh yang lahir dari integritas moral dan konsistensi kebijakan.Kemandirian energi sejatinya tidak akan lahir dari isolasi. Kebijakan ini tumbuh dari kemampuan sebuah negara menjadi contoh, bukan pengecualian.

Ketika Indonesia berbicara tentang bioenergi, misalnya, dunia memperhatikan apakah kebijakan itu benar-benar inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Bioetanol, sebagai bahan bakar nabati, telah menjadi yang simbol potensi sekaligus paradoks.

Murah, lokal, dan ramah lingkungan, tetapi seringkali ditentang karena kekhawatiran konversi lahan pangan, kerusakan mesin pengguna, dan ketidaksiapan masyarakat.

Pada konteks ini, sosialisasi publik bukan hanya tugas teknokratis, melainkan diplomasi internal melalui cara pemerintah membangun kepercayaan rakyat terhadap masa depan yang lebih hijau. Komunikasi adalah kunci.

Sementara itu, ambisi membangun industri baterai nasional sebagai tulang punggung transisi energi juga menghadirkan dilema. Pembuatan baterai memang menjanjikan kemandirian teknologi, tetapi jika limbah dan polusinya tak terkelola, maka janji energi bersih akan menjadi kontradiksi.

Dunia tidak hanya menilai kemampuan industri kita, tetapi juga konsistensi moral kita dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Di sinilah letak diplomasi halus itu bekerja, yaitu soft power tidak tumbuh dari pencitraan, melainkan dari koherensi antara kata dan tindakan dari niat politik yang jelas.

Pertanyaan besar lainnya juga mengapa EBT masih mahal? Sebagian karena teknologi impor yang belum dikuasai penuh, sebagian karena belum tercapainya skala ekonomi yang memadai.

Namun di balik biaya itu tersembunyi potensi naratif yang jarang disentuh: bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam EBT adalah investasi pada martabat bangsa.

Ketika Indonesia mampu membangun energi bersih dengan tangan sendiri, ia tidak hanya menghemat anggaran impor, tetapi juga menanamkan kepercayaan baru di mata dunia bahwa kemandirian tidak harus bertentangan dengan keberlanjutan.

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Timnas Indonesia Bisa ke Piala Dunia 2026, Asal Penuhi Syarat Ini!
Kekalahan dari Arab Saudi Picu Kritik: Media Vietnam Bandingkan Kluivert dengan Shin Tae-yong
6 Pemain Dicoret Jelang Lawan Arab Saudi! Siapa Saja?
Penyanyi Dangdut Hits Lesti Kejora Terseret Kasus Hak Cipta, Polisi Masih Dalami
Kabar Mengejutkan! Calvin Verdonk Absen Lawan Arab Saudi, Timnas Indonesia Siap Beradaptasi
Satreskrim Polres Bener Meriah Tuntaskan Berkas Kasus BBM Subsidi, Tersangka Resmi Diserahkan ke Kejaksaan Negeri Bener Meriah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru