Dan di era digital ini, bentuk cinta itu bisa sesederhana tidak ikut menyebar hoaks, tidak membully orang berbeda pandangan, dan menjaga ruang diskusi tetap sehat.
Menjadi Pemuda yang Membuat Ruang Aman Melalui gerakan Ruang Aman, saya belajar bahwa cinta tanah air tidak bisa dipisahkan dari cinta pada sesama. Bagaimana kita bisa mencintai Indonesia kalau kita masih membenci sesama warga negaranya hanya karena berbeda keyakinan, pandangan politik, atau pilihan hidup?
Pemuda seharusnya menjadi jembatan - bukan tembok. Menjadi penenang di tengah polarisasi, bukan justru memperkeruhnya. Itulah makna baru dari Sumpah Pemuda: bersatu bukan berarti seragam, tapi saling menghargai dalam perbedaan.
Kita tidak lagi hidup di masa perang fisik, tapi kita sedang menghadapi "perang narasi". Perang melawan kebencian, disinformasi, dan rasa putus asa.
Maka tugas pemuda hari ini adalah menjaga Indonesia tetap waras dan penuh harapan.
Kita mungkin tidak bisa mengubah dunia dalam semalam, tapi kita bisa mulai dari hal kecil yang menumbuhkan: menulis hal baik, berbicara dengan empati, dan membangun ruang digital yang aman untuk semua.
Sumpah Pemuda Hari Ini: Dari Layar ke Aksi Pemuda 1928 bersumpah di atas kertas dan keyakinan. Pemuda 2025 harus bersumpah lewat tindakan dan konsistensi.
Sumpah kita hari ini bukan lagi sekadar "satu bangsa", tapi satu tekad: menjadi warga yang bertanggung jawab di dunia nyata dan dunia maya.
Bukan sekadar "satu bahasa", tapi satu suara: menolak kebencian, menumbuhkan kasih, dan menjaga kemanusiaan.
Mungkin cinta tanah air sekarang tidak lagi diukur dari seberapa keras kita berteriak "Merdeka!", tapi seberapa dalam kita berbuat untuk menjaga Indonesia tetap manusiawi.
Dan di situlah, semangat Sumpah Pemuda kembali hidup - bukan di pidato, tapi di tindakan. Bukan di spanduk, tapi di sikap.* (news.detik.com)
*) Penulis adalah Wasekjend KOPRI PB PMII dan Founder Ruang Aman.