Kawal Proyek Peta Dasar Rp 4,7 Triliun BIG dari Bank Dunia, Kejagung Pasang Badan Mencegah Korupsi
JAKARTA Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Intelijen (JAMIntel) Reda Manthovani bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) mengawal p
NASIONAL
Oleh: Faidatul Hikmah.
DI negeri yang bisa ribut soal telur ayam vs telur bebek dan percaya bahwa kipas angin bisa menyebabkan masuk angin, dan debat panjang soal "lebih enak sambal terasi atau sambal bawang", wajar jika pembahasan isu tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ikut terseret drama nasional dan tentu saja tidak pernah sederhana.
Begitu kata "nuklir" muncul, imajinasi sebagian masyarakat langsung berlari ke arah adegan film fiktif, radiasi, monster mutan, sampai nelayan pulang dari laut dengan ikan bercahaya.Baca Juga:
Padahal di balik drama dan ketakutan tersebut, ada satu kenyataan yang pelan-pelan mulai disadari dunia: masa depan energi bersih dan stabil kemungkinan besar akan bertumpu pada teknologi nuklir.
Antara Logika dan Luka Kolektif Masa Lalu
Baik, mari kita jujur: kata "nuklir" memang punya reputasi campur-aduk. Ya, sejarah nuklir tidak steril dari tragedi, Hiroshima, Chernobyl, dan Fukushima.
Seolah-olah daftar itu cukup untuk mengubur potensi teknologi yang sama dalam menyediakan listrik murah, stabil, dan bersih.
Tapi begini: kita hidup di zaman ketika, Pesawat lebih aman dari naik motor di jalanan rusak, Mobil listrik mulai menggantikan bensin, Dan robot sudah bisa melamar kerja jadi customer service.
Tapi bayangkan, jika manusia berhenti membangun kapal setelah Titanic tenggelam, atau menolak pesawat karena kecelakaan Wright Brother pertama.
Teknologi berevolusi. Pengetahuan berkembang dan memperbaiki kesalahan. Tetapi ketakutan publik sering tertinggal, terjebak pada kejadian puluhan tahun lalu, tanpa melihat kemajuan sistem keselamatan nuklir generasi baru.
Jika kita menolak PLTN hanya karena trauma masa lalu dunia, itu sama seperti menolak naik kapal karena pernah dengar cerita Titanic.
Hari ini, generasi reaktor baru dirancang dengan fitur keselmatan pasif, standar IAEA semakin ketat dan hingga negara muslim sampai Eropa memasukkan energi nuklir dalam strategi energi hijau.
Ketakutan masa lalu memang berat, tapi masa depan tidak bisa disandera dengan trauma.
JAKARTA Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Intelijen (JAMIntel) Reda Manthovani bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) mengawal p
NASIONAL
JAKARTA Akademisi Rocky Gerung menyoroti gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) terkait syarat pendidikan pencalonan Gibran Rakab
POLITIK
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan pelestarian budaya dan cagar budaya merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya,
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengapresiasi inovasi sosial yang digagas Kecamatan Medan Denai melalui program ANJELI dan K
PEMERINTAHAN
MEDAN Kualitas udara di Kota Medan dilaporkan memburuk akibat sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera Utara. Wali Kota Medan Rico Waas me
KESEHATAN
BANDA ACEH Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Aceh memperkuat komitmen memberikan pelayanan yang semakin humanis dan profesional kep
PERISTIWA
MEDAN Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) memasok beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Minyakita dalam keg
EKONOMI
JAKARTA PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM meraih delapan penghargaan dalam ajang Environmental and Social Innovation Awar
NASIONAL
MEDAN Ketua Umum Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Adardam Achyar mempertanyakan pemidanaan terhadap surat yang dibuat advokat dalam menjal
POLITIK
MANDAILING NATAL Foto mobil dinas Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) digunakan untuk mengangkut
PERISTIWA