BREAKING NEWS
Rabu, 11 Maret 2026
Refleksi Hari Guru, 25 November 2025

Kenyamanan, Kunci Keberhasilan Pendidikan

Redaksi - Selasa, 25 November 2025 18:49 WIB
Kenyamanan, Kunci Keberhasilan Pendidikan
Muhammad Hanafiah S.Pd. M.Pd (Foto : Ist/ BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Disiplin seringkali ditegakkan dengan cara-cara yang kaku, bahkan tidak jarang dengan hukuman yang mempermalukan siswa di depan teman-temannya. Tujuannya mungkin baik, yaitu untuk menciptakan ketertiban. Namun, dampak jangka panjangnya bisa sangat merusak.

Ada beberapa ciri paradigma lama yang perlu dievaluasi. Pertama, otoritarianisme di kelas. Guru dipandang sebagai figur yang "maha tahu" dan tidak boleh dibantah.

Suasana kelas menjadi tegang, dan siswa takut untuk bertanya atau mengungkapkan pendapat yang berbeda. Iklim semacam ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa kekuatan dan senioritas adalah segalanya—sebuah bibit dari perilaku perundungan.Kedua, fokus pada kognitif. Abai pada afektif.

Sistem ini terlalu terpaku pada transfer pengetahuan (kognitif) dan seringkali mengabaikan perkembangan emosional dan sosial (afektif) siswa. Empati, kerja sama, dan kecerdasan emosional tidak mendapatkan porsi yang cukup dalam kurikulum "tersembunyi" di kelas.Ketiga, kompetisi yang tidak sehat. Sistem peringkat dan perbandingan antar-siswa yang terus-menerus dapat menciptakan lingkungan yang kompetitif secara negatif.

Siswa yang dianggap "kurang pintar" menjadi sasaran empuk ejekan. Sementara yang "pintar" bisa menjadi arogan.Keempat, ketidakpedulian terselubung. Karena fokus utama guru adalah menyelesaikan materi pelajaran, masalah-masalah personal siswa seperti kesedihan, kecemasan, atau konflik sosial seringkali dianggap sebagai "gangguan".

Guru mungkin melihat tanda-tanda perundungan—seperti seorang siswa yang menyendiri atau diejek—tetapi mengabaikannya karena menganggap itu "hanya candaan anak-anak".Lingkungan yang diciptakan oleh paradigma ini adalah lahan subur bagi perundungan.

Ketika hierarki kekuasaan (guru di atas murid) begitu kental, siswa akan menirunya dalam interaksi mereka (senior menindas junior, yang kuat menindas yang lemah).

Ketika empati tidak diajarkan dan dihargai, maka kekerasan verbal dan fisik menjadi hal yang dianggap wajar. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang hangat dan inklusif berubah menjadi miniatur hutan rimba di mana hukum "siapa kuat dia berkuasa" berlaku.

Bangun Oase Kenyamanan: Solusi Holistik

Jika paradigma lama adalah bagian dari masalah, maka paradigma baru yang berpusat pada kenyamanan adalah solusinya.

Kenyamanan di sini bukan berarti memanjakan siswa atau menghilangkan tantangan akademis.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Hari Guru Nasional 2025: Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tekankan Peran Guru dan Sinergi Keluarga
Orang Tua Ambil Alih Peran Petugas Upacara, Peringatan Hari Guru di SMAN 53 Jakarta Jadi Sorotan
PW IPM Aceh Serukan Penguatan Peran Guru di Tengah Tantangan Pendidikan Baru
Siswa SD Muhammadiyah 1 Banda Aceh Rayakan Hari Guru dengan Cuci Motor Guru sebagai Bakti
Muhammadiyah Aceh Gelar Pendampingan Mutu Pendidikan di Delapan Wilayah, Momentum Hari Guru Nasional Jadi Pengungkit Perubahan
AATT Apresiasi Guru Indonesia: Pilar Masa Depan Bangsa di Hari Guru Nasional 2025
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru