BREAKING NEWS
Kamis, 22 Januari 2026

Jeritan Korban Malapetaka Banjir Aceh

BITV Admin - Jumat, 05 Desember 2025 09:21 WIB
Jeritan Korban Malapetaka Banjir Aceh
Kondisi rumah warga yang habis di sapu bersih banjir bandang di Aceh. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh: Jaya Suprana

DARI Leiden, Belanda, pejuang kemanusiaan Sandyawan Sumardi meneruskan pesan WhatsApp dari Azhari Aiyub—dikenal juga sebagai Si Ujud atau O Men—seorang sastrawan terkemuka asal Aceh, pendiri komunitas budaya Tikar Pandan sekaligus penulis novel Kura-Kura Berjanggut.

Berikut isi pesan Azhari yang saya salin lengkap agar kita memperoleh gambaran tentang kondisi Aceh saat ini:

Baca Juga:

"Mulai dari Peureulak sampai Panton Labu, sinyal telepon hilang. Listrik padam. Elpiji mulai habis. Warung-warung di depan Masjid Julok sejak kemarin sudah tidak jualan nasi lagi. Masjid Julok yang sejak kemarin menampung banyak musafir sudah kehabisan air untuk MCK.

Tumpukan kendaraan terjadi di setiap titik banjir. Tidak ada alat berat untuk sekadar menyingkirkan pohon tumbang di jalan. Pemerintah lokal lumpuh dan kebingungan. Tapi warga saling bantu.

Pengurus Masjid Kubra sangat pemurah dan membantu banyak musafir dengan memberikan stok air bersih yang mereka punya. Bersamaku juga ada beberapa orang Tionghoa yang singgah di masjid dan menggunakan air untuk MCK.

Walaupun kondisi darurat, pedagang di Keude Kuta Binjai Julok tetap tidak menaikkan harga barang. Harga Aqua besar masih Rp 6.000, walaupun mereka tahu elpiji besok akan habis dan barang-barang di toko sudah kosong.

Di beberapa ruas jalan, penduduk, pemuda, dan remaja membuat pagar betis ketika ada truk atau bus melewati genangan air agar tidak tergelincir keluar jalur.

Mereka kesulitan, karena untuk bergerak dari satu titik ke titik lain, bahkan yang jaraknya hanya 500 meter, hampir tidak mungkin karena dihalangi air.

Banyak orang akhirnya terjebak di titik-titik seperti itu, tidak bisa menghubungi keluarga atau kehilangan kontak karena telekomunikasi mati total.


Pantai timur Aceh itu sepanjang 300 kilometer. Di sepanjang itulah banjir terjadi, belum lagi wilayah di atasnya, yang kebanyakan orang tidak tahu jalan keluar ketika banjir bandang datang.

Jalan Aceh–Medan sebenarnya sangat rentan. Hampir satu juta orang tergantung pada jalan itu. Karena situasi banjir, truk dalam sehari hanya mampu bergerak lima kilometer.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Polda Sumut Perkuat Layanan Kemanusiaan di Batang Toru Lewat Posko Kesehatan dan Dapur Lapangan
Wapres Gibran Pantau Penanganan Banjir Tapanuli Selatan, Kapolda Sumut Pastikan 1x24 Jam Siap Bantu Masyarakat
Terungkap! Ada Bekas Chainsaw di Kayu Pascabanjir Sumatra, Kapolri Bongkar Fakta Baru
BMPD Sumut Salurkan 1 Ton Beras dan Ratusan Paket Sembako untuk Warga Deli Serdang
Gibran ‘Sidak’ Gudang Bantuan di Medan: Tak Boleh Ada Bantuan yang Terlambat!
UMKM Sumatera Bangkit Pascabencana! Pemerintah Siapkan Skema Pemulihan, Bank Sumut Tunggu Aturan OJK
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru