Kehidupan mereka untuk beberapa bulan ke depan akan sangat bergantung pada program bantuan yang dikelola pemerintah, masyarakat, atau badan-badan sosial lainnya.
Masalah pangan sangat krusial untuk diperhatikan, demikian pula keterbatasan sarana air bersih dan buruknya lingkungan tempat tinggal sementara.
Oleh karena itu diperlukan perencanaan penanganan korban banjir yang holistik mencakup bidang kesehatan, pangan/gizi, sosial dan penyediaan sarana dan prasarana.
Penanganan pengungsi banjir Sumatra memerlukan manajemen yang lebih baik karena derajat kerusakan fisik dan nonfisik yang sangat luar biasa.
Pemerintah dan organisasi nonpemerintah harus mengkonsolidasikan diri dan melakukan koordinasi dengan sebaik-baiknya untuk mengantisipasi merosotnya derajat kehidupan, kesehatan, dan status gizi khususnya kaum perempuan dan anak.
Perempuan hamil dan menyusui korban banjir memerlukan asupan gizi yang berkualitas. Dalam situasi normal, perempuan hamil umumnya rawan anemia akibat kurang zat besi.
Dalam situasi khusus seperti di pengungsian, risiko kurang zat besi semakin besar karena mereka mengonsumsi pangan bantuan dalam situasi darurat.
Oleh sebab itu posko penanganan bantuan pangan perlu memahami bahwa ransum untuk perempuan hamil perlu tambahan pangan hewani dan sayuran hijau yang kaya zat besi, serta tablet besi untuk keperluan tiga bulan selama kehamilan berlangsung.
Masalah pangan dan gizi juga akan dialami oleh anak-anak balita korban banjir karena mereka termasuk sebagai golongan paling rawan.
Meski mereka sudah bisa mengonsumsi makanan orang dewasa, namun sebenarnya golongan umur ini memerlukan asupan gizi yang bermutu.
Pada periode usia balita ini konsumsi protein relatif lebih tinggi untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang baik.
Bantuan makanan untuk pengungsi hendaknya jangan hanya dalam bentuk makanan orang dewasa seperti beras, mi instan, gula, minyak goreng, ikan asin dsb. Perlu sejak awal dipikirkan bahwa korban banjir juga ada dari kalangan anak balita dan bayi.