Sebaliknya, ia mencerminkan keteguhan membela nilai yang diyakini benar. Dalam sejarah hubungan internasional, banyak contoh yang bisa dijadikan rujukan di mana perdamaian selalu lahir dari keberanian satu pihak untuk memulai dialog ketika suasana masih panas.
Sulit dinafikan bahwa niat tulus Prabowo memediasi negara terlibat perang tersebut mengundang skeptisisme publik.
Ada yang masih meragukan kapasitas Indonesia dalam memediasi perang sebesar AS-Israel dan Iran yang jika dilihat secara realistis, memang sedikit meragukan kemampuan Indonesia.
Sebagian bahkan menilai langkah tersebut terlalu ambisius sehingga mengabaikan kondisi objektif dan realitas yang ada. Namun dalam diplomasi global, satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa keberanian sering kali menjadi pembeda antara stagnasi dan terobosan.
Prabowo ingin menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu harus menunggu undangan resmi atau menunggu sebuah negara memiliki kesiapan baik fisik maupun alat diplomatik tertentu.
Dalam banyak hal, terkadang inisiatif personal seorang pemimpin justru menjadi pembuka ruang bagi komunikasi yang sebelumnya terhambat atau tertekan.
Dengan begitu, keberanian untuk menawarkan diri sebagai mediator bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata, melainkan hal itu mencerminkan keyakinan bahwa setiap konflik, seberat dan serumit apa pun itu, tetap memiliki celah dialog jika ada pihak yang berani bersedia menjadi penjembatan.
Prabowo senantiasa berpandangan bahwa bahwa konflik bersenjata modern tidak lagi selalu bersifat lokal yang dampaknya terbatas.
Sebaliknya, dalam keyakinan Prabowo perang modern selalu membawa efek domino yang kompleks dan bersifat global.
Ia bisa membawa dampak buruk ke sektor ekonomi global, stabilitas energi, hingga keamanan regional Asia.
Untuk itu, Indonesia sebagai negara dengan posisi strategis dan populasi muslim terbesar, harus ikut andil tidak bisa hanya bersikap pasif terhadap potensi instabilitas yang berdampak luas.