Presiden pertama Indonesia, Sukarno, berpidato pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955. (foto: Dok. Arsip Nasional Republik Indonesia via Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Tulisan ini mengajukan suatu kerangka strategis bertahap bagi integrasi ekonomi Indonesia ke dalam sistem global melalui tiga tahapan utama, yaitu CROSBESO (Cross-Border Economy Spill Over), GLOBESO (Global Economy Spill Over), dan Hilirisasi (Downstream Industrialization).
Kerangka ini bertolak dari premis bahwa negara berkembang tidak dapat secara langsung memasuki pasar global sebagai produsen utama tanpa melalui proses adaptasi, integrasi, serta transformasi nilai tambah secara bertahap.
Oleh karena itu, pembangunan ekonomi nasional harus diposisikan sebagai suatu proses transisi struktural yang berjenjang, bukan lompatan instan.
Pendahuluan: Dari Independensi ke Interdependensi
Sejak Konferensi Asia-Afrika 1955, negara-negara berkembang menegaskan kedaulatan politiknya.
Namun, dalam lanskap global kontemporer, tantangan utama tidak lagi sekadar mempertahankan independensi, melainkan membangun interdependensi ekonomi yang strategis.
Globalisasi telah membentuk struktur ekonomi dunia yang terintegrasi, di mana negara tidak dapat berkembang secara isolatif.
Oleh karena itu, diperlukan suatu kerangka konseptual yang mampu menjembatani posisi Indonesia dari ekonomi domestik menuju sistem ekonomi global secara bertahap dan terukur.
Landasan Teoretis
Kerangka CROSBESO-GLOBESO-Hilirisasi memiliki legitimasi dalam berbagai literatur ekonomi pembangunan.
Dalam perspektif Development Economics, teori catch-up growth menjelaskan bahwa negara berkembang dapat mengejar ketertinggalan melalui tahapan akumulasi kapasitas produksi dan teknologi.