Presiden pertama Indonesia, Sukarno, berpidato pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955. (foto: Dok. Arsip Nasional Republik Indonesia via Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Berdasarkan pengalaman empiris negara berkembang di Asia Timur dan Asia Tenggara, kontribusi masing-masing tahap dapat diperkirakan sebagai berikut:
CROSBESO menyumbang sekitar 20-30% dalam fase awal integrasi, terutama melalui aktivitas perdagangan lintas batas dan konsumsi eksternal.
GLOBESO menyumbang sekitar 40-50%, menjadi fase paling menentukan karena memungkinkan integrasi ke dalam sistem produksi global.
Hilirisasi menyumbang sekitar 20-30%, namun memiliki dampak paling signifikan terhadap peningkatan nilai tambah, ekspor industri, dan Produk Domestik Bruto.
Pengalaman China, Vietnam, dan South Korea menunjukkan bahwa transformasi ekonomi yang berhasil selalu melalui tahapan integrasi bertahap, dimulai dari integrasi regional, dilanjutkan dengan integrasi global, dan diakhiri dengan industrialisasi berbasis nilai tambah.
Dalam konteks struktur ekonomi global saat ini, sekitar 75-80% pasar manufaktur dunia dikuasai oleh negara maju dan emerging giants, sehingga ruang bagi negara berkembang relatif terbatas.
Hal ini mengimplikasikan bahwa hilirisasi tanpa integrasi global sebelumnya berpotensi gagal karena tidak memiliki akses pasar dan jaringan produksi internasional.
Pertama, prinsip ketergantungan berurutan (sequential dependency), yang menegaskan bahwa setiap tahap bergantung pada keberhasilan tahap sebelumnya.
Kedua, prinsip non-linear namun berarah (non-linearity but directional), yang menunjukkan bahwa transformasi tidak selalu berjalan lurus, tetapi tetap memiliki arah strategis.