Presiden pertama Indonesia, Sukarno, berpidato pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955. (foto: Dok. Arsip Nasional Republik Indonesia via Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Ketiga, prinsip spillover sebagai mekanisme masuk (entry mechanism), di mana spillover menjadi pintu awal integrasi ekonomi.
Keempat, prinsip maksimalisasi penguasaan nilai (value capture maximization), yang menempatkan penguasaan nilai tambah sebagai tujuan akhir pembangunan ekonomi.
Implikasi Kebijakan
Dalam implementasinya, CROSBESO memerlukan penguatan kawasan perbatasan dan kawasan ekonomi khusus. GLOBESO membutuhkan kebijakan yang mendorong investasi asing, integrasi rantai pasok global, serta diplomasi ekonomi yang aktif.
Sementara itu, hilirisasi menuntut industrialisasi berbasis sumber daya alam, penguatan sektor industri nasional, serta kebijakan proteksi selektif yang terukur untuk menjaga daya saing.
Indonesia harus bertransformasi dari sekadar pasar konsumsi menjadi node dalam jaringan ekonomi global, yaitu sebagai simpul strategis yang menghubungkan arus produksi, distribusi, dan interaksi ekonomi dunia.
Posisi ini menuntut kemampuan untuk tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga mengendalikan sebagian rantai nilai global.
Lebih dari tujuh dekade setelah Konferensi Asia-Afrika 1955, orientasi perjuangan bangsa telah bergeser dari independensi politik menuju interdependensi ekonomi.
Melalui model CROSBESO-GLOBESO-Hilirisasi, Indonesia memiliki kerangka strategis yang tidak hanya menjelaskan proses integrasi ekonomi, tetapi juga menawarkan arah kebijakan yang sistematis dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari globalisasi, tetapi berpotensi menjadi aktor utama dalam arsitektur ekonomi dunia.* (news.detik.com)
*) Penulis adalah Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1996-1998).