5 Dokter Laporkan Menkes Budi Gunadi Sadikin ke Polda Metro Jaya, Pelapor Serahkan 10 Bukti
JAKARTA Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dilaporkan lima dokter ke Polda Metro Jaya atas dugaan penggunaan gelar akademik yang dini
HUKUM DAN KRIMINAL
Oleh: KRISNA
DI atas kertas, ekonomi Indonesia terlihat stabil. Pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, hilirisasi, bonus demografi, dan mimpi menjadi negara maju 2045.
Namun di balik optimisme itu, ada satu kenyataan yang terus membesar dari tahun ke tahun:
utang negara terus naik, bunga utang membengkak, dan APBN makin tergantung pada pinjaman baru.
Per akhir 2025, total utang pemerintah Indonesia diperkirakan sudah mencapai sekitar Rp9.600 triliun dengan rasio sekitar 40 persen terhadap PDB. Pemerintah menyebut angka itu masih aman.
Tetapi rakyat mulai bertanya:
aman untuk siapa?
Karena di saat negara mengatakan fiskal sehat, masyarakat justru menghadapi:
pajak makin tinggi,
harga kebutuhan naik,
daya beli melemah,
lapangan kerja sulit,
dan biaya hidup makin menekan kelas menengah.
Negara Hidup dari Pajak, Tapi Separuhnya Habis untuk Utang
Mari lihat angka sebenarnya.
Pendapatan Negara 2025
Total pendapatan negara sekitar:
Rp2.756 triliun
Rinciannya:
Pajak: Rp1.917 triliun
Bea cukai: sekitar Rp300 triliun
PNBP: sekitar Rp534 triliun
Artinya tulang punggung negara tetap rakyat dan dunia usaha melalui pajak.
Tetapi sekarang lihat pengeluaran negara.
Belanja Negara 2025
Total belanja negara diperkirakan mencapai:
Rp3.451 triliun
Defisit APBN:
sekitar Rp695 triliun
Defisit itu ditutup dengan utang baru.
Artinya negara masih membelanjakan uang lebih besar daripada penghasilannya.
Kalau rumah tangga melakukan hal seperti ini terus-menerus, itu disebut:
hidup di atas kemampuan.
Yang Paling Mengerikan Bukan Utangnya — Tapi Bunganya
Banyak orang fokus pada angka Rp9.600 triliun.
Padahal yang lebih berbahaya adalah biaya tahunan untuk menjaga utang itu tetap hidup.
Beban Utang 2025
Bunga utang: sekitar Rp552 triliun
Pokok jatuh tempo: Rp700–800 triliun
Total kewajiban utang tahunan:
sekitar Rp1.300 triliun.
Bandingkan dengan:
anggaran kesehatan,
subsidi rakyat,
atau pembangunan daerah.
Artinya sebagian besar uang negara sekarang bukan dipakai menciptakan masa depan baru, tetapi untuk:
membayar keputusan fiskal masa lalu.
Lebih parah lagi, pemerintah tidak melunasi utang dengan uang tabungan negara, melainkan dengan:
menerbitkan utang baru.
Inilah yang membuat kritik "gali lubang tutup lubang" terus muncul.
Negara Makin Agresif Memungut Pajak
Untuk menjaga APBN tetap hidup, pemerintah membutuhkan penerimaan lebih besar.
Akibatnya:
PPN naik,
target pajak dinaikkan,
UMKM makin dipantau,
transaksi digital diawasi,
kelas menengah jadi sasaran utama.
Sementara itu masyarakat melihat:
korupsi tetap terjadi,
kebocoran anggaran belum hilang,
pejabat hidup mewah,
proyek mercusuar terus berjalan.
Rakyat akhirnya mempertanyakan:
pajak yang dibayar sebenarnya dipakai untuk rakyat atau untuk menutup beban fiskal yang terus membesar?
Infrastruktur Besar, Utang Besar, Risiko Besar
Pemerintah selalu memakai satu narasi:
utang dipakai untuk pembangunan.
Benar, Indonesia membangun banyak:
jalan tol,
bendungan,
pelabuhan,
MRT,
kereta cepat,
hingga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun pertanyaannya bukan sekadar "ada pembangunan atau tidak."
Pertanyaan besarnya:
apakah semua proyek itu benar-benar prioritas ketika ruang fiskal makin sempit?
IKN menjadi contoh paling kontroversial.
Di saat:
utang naik,
bunga utang membengkak,
dan pajak rakyat diperbesar,
pemerintah tetap menjalankan proyek ratusan triliun rupiah yang manfaat ekonominya masih diperdebatkan.
Pendukung pemerintah menyebut:
investasi jangka panjang.
Namun pengkritik melihat:
simbol ambisi politik yang dibayar dengan risiko fiskal generasi mendatang.
Kalau Indonesia Berhenti Berutang Hari Ini
Mari gunakan simulasi kasar.
Jika total utang Rp9.600 triliun dan pemerintah mampu membayar Rp500 triliun pokok per tahun tanpa menambah utang baru:
Baca Juga:
*)Penulis adalah anak desa kab batubara.
JAKARTA Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dilaporkan lima dokter ke Polda Metro Jaya atas dugaan penggunaan gelar akademik yang dini
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Klaim pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 menuai kritik dari kalangan akad
EKONOMI
JAKARTA Kejaksaan Agung menetapkan satu tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan pertambangan batu bara milik PT AKT di Kab
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia hanya tinggal menyelesaikan persoalan impor kedelai untuk mewujudkan
PERTANIAN AGRIBISNIS
JAKARTA Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri, Ginandjar Kartasasmita, mengungkapkan kejatuhan Presiden ke2
SENI DAN BUDAYA
JAKARTA SMAN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan ulang babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC)
NASIONAL
MEDAN Kecelakaan maut kembali terjadi di ruas Tol MedanTebing Tinggi, tepatnya di KM 70/300 Jalur A, Desa Firdaus, Kecamatan Sei Ramp
PERISTIWA
JAKARTA Pemerintah Indonesia bersiap melepas ekspor pupuk ke Australia di tengah dinamika global yang masih memengaruhi pasokan pangan dan
EKONOMI
JAKARTA Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menetapkan tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi sektor pertambangan yang melibatkan pengus
HUKUM DAN KRIMINAL
BATU BARA Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke19 Tingkat Kabupaten Batu Bara resmi digelar mulai Rabu hingga Sabtu, 1316 Mei 2026. Keg
PENDIDIKAN