Sihir Argentina
OlehHamid AwaludinKATA sihir mengendap pelan dalam benak kita semua, dari zaman es, batu hingga zaman nuklir ini. Banyak yang percaya, te
OPINI
Oleh:Muhardis
ADA alasan mengapa kita lebih mudah mengingat "sapu lidi" daripada "penguatan kapasitas ekonomi berbasis kolektivitas".Baca Juga:
Ada alasan pula mengapa masyarakat lebih cepat menangkap istilah "orang miskin" dibandingkan "masyarakat desil bawah" atau "kelompok berpendapatan rendah".
Bahasa memiliki hukumnya sendiri. Ia tidak selalu berpihak pada ketepatan. Sering kali ia berpihak pada kesederhanaan stuktur.
Terkait hal itu, menarik mencermati pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut koperasi sebagai "alat orang miskin" dan mengibaratkannya seperti sapu lidi yang menjadi kuat ketika disatukan (Kompas.com, 13/07/2026).
Terlepas dari perdebatan mengenai kebijakan koperasi, pernyataan tersebut menyimpan pelajaran menarik mengenai bagaimana bahasa bekerja dalam ruang publik.
Pilihan kata pertama yang menonjol adalah kata "alat". Dalam kehidupan sehari-hari, alat identik dengan fungsi.
Pisau adalah alat untuk memotong. Jaring adalah alat untuk menangkap ikan. Cangkul adalah alat untuk mengolah tanah.
Alat bukan sesuatu yang abstrak, ia adalah sesuatu yang dapat dipegang, dipakai, dan dimanfaatkan.
Ketika koperasi disebut sebagai "alat orang miskin", koperasi tidak lagi hadir sebagai konsep ekonomi yang rumit atau lembaga yang penuh prosedur administratif, bukan?
Ia berubah menjadi sesuatu yang konkret dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Di sinilah bahasa melakukan pekerjaannya yang paling penting, yakni mengubah gagasan menjadi benda, dan benda hampir selalu lebih mudah dipahami daripada gagasan!
Padahal, koperasi sesungguhnya merupakan konsep yang jauh lebih kompleks daripada sekadar alat.
Ia berbicara tentang kepemilikan bersama, partisipasi anggota, distribusi manfaat, pengambilan keputusan demokratis, hingga penguatan posisi tawar dalam pasar.
Namun, konsep-konsep seperti itu tidak mudah hidup dalam percakapan publik.
Sebaliknya, kata "alat" segera menciptakan gambaran yang jelas di kepala pendengar, yaitu ada sesuatu yang dapat digunakan untuk memperbaiki keadaan.
Bahasa publik memang sering bekerja melalui penyederhanaan. Penyederhanaan bukan berarti kesalahan, bukan?
Ia adalah kebutuhan komunikasi.
Seorang dokter, misalnya, tidak akan menjelaskan mekanisme biokimia secara mendetail ketika mendiagnosis seseorang masuk angin.
Pun, seorang guru tidak menjelaskan seluruh teori gravitasi ketika mengatakan benda jatuh ke bawah.
Demikian pula komunikasi publik tidak selalu membutuhkan definisi yang lengkap agar dapat dipahami.
Yang terpenting adalah pesan dapat dipahami terlebih dahulu.
Pilihan kata kedua dari Presiden adalah istilah "orang miskin".
Selama beberapa dekade terakhir, sepertinya bahasa birokrasi Indonesia bergerak menuju istilah-istilah yang semakin teknokratis.
Kemiskinan diameliorasikan menjadi "kelompok rentan", "masyarakat berpenghasilan rendah", "keluarga prasejahtera", "desil satu", atau "penerima manfaat".
Bahasa menjadi semakin presisi, bukan?
Namun, sering kali makin jauh dari bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Dalam dokumen kebijakan, istilah-istilah tersebut memang diperlukan karena memiliki definisi statistik yang jelas.
Namun, dalam komunikasi, istilah teknokratis sering kehilangan daya hidupnya.
Sulit membayangkan seseorang berpidato dengan mengatakan bahwa koperasi adalah alat bagi "masyarakat desil bawah".
Secara statistik mungkin benar, tetapi secara linguistik terasa dingin dan jauh.
Sebaliknya, "orang miskin" adalah istilah yang segera dipahami semua orang.
Tidak diperlukan penjelasan tambahan. Tidak diperlukan tabel pendapatan. Tidak diperlukan definisi operasional.
Semua orang memahami siapa yang sedang dibicarakan. Di sinilah letak kekuatan bahasa langsung!
Namun, bahasa langsung hampir selalu memiliki konsekuensi.
Kekinian, istilah "orang miskin" mulai dihindari karena dianggap berpotensi menjadikan kemiskinan sebagai identitas, bukan sebagai keadaan.
Kemiskinan dipandang sebagai situasi ekonomi yang dapat berubah, bukan label yang melekat pada seseorang sepanjang hidupnya.
Karenanya, berbagai lembaga internasional lebih memilih istilah seperti low-income households atau economically disadvantaged groups yang menekankan kondisi ekonomi, bukan identitas personal! Perdebatan ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar persoalan kata-kata.
Bahasa adalah cara kita melihat manusia, kan? Dalam bahasa, perbedaan kecil sering menghasilkan cara pandang yang berbeda pula.
Aspek lain dari pidato Presiden yang tidak kalah menarik adalah metafora sapu lidi.
Sejatinya, metafora bukan sekadar hiasan bahasa. Lebih dari itu, metafora dapat merefleksikan cara berpikir seseorang.
Manusia memahami dunia yang rumit melalui sesuatu yang sederhana dan akrab dengan pengalaman sehari-hari.
Kita berbicara tentang "akar masalah", "jalan keluar", "beban hidup", atau "masa depan yang cerah".
Padahal, masalah tidak memiliki akar, kehidupan tidak memiliki beban fisik, dan masa depan tentu tidak memancarkan cahaya.
Namun, kita memahami semuanya. Demikian pula dengan sapu lidi.
Konsep koperasi sebenarnya melibatkan banyak gagasan abstrak, seperti solidaritas ekonomi, kepemilikan kolektif, pengumpulan modal bersama, hingga penguatan posisi tawar dalam pasar.
Semua kerumitan tersebut kemudian dipadatkan menjadi satu gambar sederhana, yakni satu lidi mudah dipatahkan, tetapi banyak lidi menjadi kuat.
Metafora ini bekerja karena ia memanfaatkan pengalaman bersama yang dimiliki masyarakat.
Hampir semua orang pernah melihat sapu lidi. Hampir semua orang memahami bahwa sebatang lidi tidak memiliki banyak kegunaan ketika berdiri sendiri.
Dengan demikian, pendengar tidak perlu memahami teori ekonomi untuk memahami pesan yang ingin disampaikan.
Ia cukup mengingat pengalaman sehari-harinya sendiri, bukan?
Barangkali inilah sebabnya mengapa metafora bertahan jauh lebih lama dibandingkan data statistik.
Masyarakat mungkin lupa angka pertumbuhan ekonomi tahun lalu. Masyarakat mungkin lupa target produksi atau besaran anggaran.
Namun, masyarakat jarang lupa pada gambar yang kuat.
Kita masih mengingat "tikus berdasi" bukan karena ketepatan ilmiahnya, melainkan karena kekuatan imajinasinya.
Bahasa yang baik dalam komunikasi publik bukan selalu bahasa yang paling akurat.
Sering kali ia adalah bahasa yang paling mudah divisualisasikan.
Sama halnya, kekuatan ungkapan "alat orang miskin" dan "sapu lidi" mungkin tidak terletak pada kebaruan gagasannya.
Gagasan mengenai kerja sama dan gotong royong sudah lama hidup dalam masyarakat Indonesia, lho!
Yang membuatnya kembali memperoleh perhatian adalah cara gagasan itu diucapkan.
Bahasa berhasil melakukan apa yang sering gagal dilakukan angka dan laporan kebijakan, seperti membuat konsep yang rumit terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan mungkin memang demikian sifat dasar komunikasi.
Masyarakat belum tentu mengingat definisi. Masyarakat belum tentu mengingat teori.
Namun, masyarakat hampir selalu mengingat cerita.
Dan kadang-kadang, sebuah cerita cukup diwakili oleh sebatang lidi, bukan? *(www.kompas.com)
*) Penulis adalah PNS, Saat ini bekerja sebagai periset di Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas, BRIN
OlehHamid AwaludinKATA sihir mengendap pelan dalam benak kita semua, dari zaman es, batu hingga zaman nuklir ini. Banyak yang percaya, te
OPINI
OlehMuhardis ADA alasan mengapa kita lebih mudah mengingat sapu lidi daripada penguatan kapasitas ekonomi berbasis kolektivitas. Ada al
OPINI
JAKARTA Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BCA 2026 menjadi salah satu pilihan pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (U
EKONOMI
JAKARTA Hari Jumat memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Hari yang disebut sebagai sayyidul ayyam atau penghulu segala hari in
AGAMA
ASAHAN Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin S.Sos., M.Si., membuka secara resmi Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Tim Penggerak PKK Kabup
PEMERINTAHAN
MEDAN Wakil Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Surya mengajak Republik Prancis memperkuat kemitraan strategis dengan Sumatera Utara melalui
PEMERINTAHAN
MEDAN Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Sumatera Utara mengajak masyarakat mengunjungi P
PEMERINTAHAN
BATU BARA Bupati Batu Bara Dr. H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si., C.L.A., bersama Wakil Bupati Syafrizal, S.E., M.AP., menerima kunjung
PEMERINTAHAN
BATU BARA Pemerintah Kabupaten Batu Bara terus memperkuat pelayanan kesehatan hingga ke tingkat desa. Salah satu langkah yang dilakukan
KESEHATAN
BATU BARA Bupati Batu Bara Dr. H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si., C.L.A., bersama Wakil Bupati Batu Bara Syafrizal, S.E., M.AP., mengha
PEMERINTAHAN