Rakyat Jangan Cuma Jadi Objek Pasar, NU Desak Koperasi Merah Putih Direformasi Total
JOMBANG Muktamar ke35 Nahdlatul Ulama (NU) meminta pemerintah mengevaluasi keberadaan Koperasi Merah Putih agar benarbenar menjadi kekua
NASIONAL
NIAS SELATAN – Puluhan tenaga kesehatan (Nakes) mendatangi Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nias Selatan, Senin (10/02/2025). Para nakes yang mayoritas berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) itu, termasuk dokter, perawat, serta tenaga sukarela (TKS) atau honorer.
Mereka datang menagih janji dan kepastian pembayaran biaya ganti rugi yang mereka keluarkan saat menangani Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah malaria dan DBD di Kepulauan Batu tahun 2024.
Dokter Reka Halawa, mewakili para nakes, menyampaikan bahwa tujuan kedatangan mereka adalah untuk menanyakan kejelasan klaim atau ganti biaya hidup selama bertugas di Kepulauan Batu dari Agustus hingga Oktober 2024.
"Saya sendiri ditugaskan sejak bulan Agustus dan September 2024, kurang lebih empat puluh hari. Jadi, selama di sana kami dijanjikan disediakan tempat tinggal dan diberikan makan serta diberikan uang harian," ujar Reka.
Namun, meski tugas mereka telah selesai sekitar enam bulan lalu, biaya yang mereka keluarkan dari kantong pribadi hingga kini belum diganti. "Semua ini tuntutan profesi kami mengabdi kepada masyarakat. Kami datang di lapangan untuk menangani wabah secara langsung. Tetapi setelah KLB berakhir, biaya ganti rugi yang telah kami keluarkan dengan menggunakan dana sendiri hingga kini belum dibayarkan," ungkapnya.
Menurut Reka, mereka telah beberapa kali mempertanyakan hal ini kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan. Namun belum mendapatkan kepastian. Karena itu, mereka akhirnya mendatangi BPBD Nisel sebagai penanggung jawab anggaran untuk mendapatkan kejelasan langsung.
Reka juga menjelaskan bahwa selama bertugas di Kepulauan Batu, Pulau Telo, dan Pulau Simuk, seluruh biaya transportasi, makan, serta uang harian ditanggung sendiri oleh para nakes. "Pengeluaran dari saku sendiri selama bertugas di Kepulauan Batu jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah," tambahnya.
Hal serupa disampaikan Putri S Telaumbanua, seorang tenaga kerja sukarela (TKS) yang juga bertugas di Kepulauan Batu. "Walaupun kami tidak diberikan honor atau gaji, tetapi sesuai janji yang disampaikan kepada kami, seluruh pengeluaran dari saku sendiri akan diganti," ujar Putri, yang berharap ada kepastian kapan dana tersebut akan dibayarkan.
Sayangnya, kedatangan mereka ke Kantor BPBD Nisel tidak membuahkan hasil karena Kepala BPBD Nisel sedang berada di luar daerah. Kepala BPBD Kabupaten Nias Selatan, Aroziduhu Maduwu, saat dikonfirmasi melalui telepon menjelaskan, bahwa KLB Malaria dan DBD masih berjalan dan bersumber dari APBD Nias Selatan Sebesar 1,8 Miliar dan Dana dari Badan NasionalPenanggulangan Bencana (BNPB) sebesar 3 Miliar.
"Kami (red-BPBD Nias Selatan) telah menyalurkan anggaran sebesar Rp1,8 miliar dari Biaya Tak Terduga (BTT) daerah untuk KLB Malaria dan DBD 2024. Namun, anggaran tersebut digunakan untuk berbagai keperluan seperti operasional tim gabungan TNI/Polri, sewa kapal pasien, BBM Pusling, biaya fogging, logistik dapur, dan lain-lain, sedangkan untuk tenaga kesehatan dan dokter belum dibayarkan." Terang Kaban BPBD.
BPNP - WAJIB AUDIT BPKP
Lewat aplikasi WhatsApp,Direktur Fasilitasi, Korban dan Pengungsi Kedeputian Kedaruratan BNPB, Nelwan Harahap menjelaskan pada Rabu (12/02/24) kepada wartawan, dalam penanganan KLB Malaria dan DBD di Nias Selatan, BNPB telah menyetujui Dana Siap Pakai (DSP) BNPB tahun anggaran 2024 sebesar Rp 3 miliar. Namun terkendala di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
"Dari BNPB saat ini sedang proses reviw BPKP, karena sesuai kewenamgan kalau nilai usulan di atas 2 M, pencairannya harus melalui audit BPKP, permohonam bantuan dan data dukung dari Pemkab Nias Selatan ke BNPB sudah kami sampaikan ke BPKP untuk di audit" terang Nelwan.
Pria yang juga sebagai dewan pakar lembaga resiliensi bencana Muhammadiyah ini juga menegaskan bahwa anggaran penanganan KLB Malaria dan DBD di Nias Selatan kurang lebih 3 Miliar Rupiah.
(daniel)
JOMBANG Muktamar ke35 Nahdlatul Ulama (NU) meminta pemerintah mengevaluasi keberadaan Koperasi Merah Putih agar benarbenar menjadi kekua
NASIONAL
MEDAN Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Medan menggerebek sebuah rumah yang diduga menjadi sarang peredaran narkoba di Jalan PWI, Gang Gi
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung bergerak stagnan sepanjang sepekan terakhir. Pada penutupan perda
EKONOMI
JEDDAH Indonesia mendesak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengambil langkah nyata untuk merespons berbagai tindakan Israel di wilayah Pa
INTERNASIONAL
JAKARTA Harga emas Antam hari ini, Minggu (30/8/2026), masih bertahan di level Rp2.670.000 per gram. Harga tersebut tidak berubah dibandin
EKONOMI
ACEH TIMUR Kapolres Aceh Timur AKBP Irwan Kurniadi mengimbau masyarakat tidak membuka atau mengelola lahan dengan cara membakar. Langkah t
NASIONAL
BENER MERIAH Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Hutan Lindung Kaki Gunung Burni Telong, Kampung Wih Pesam, Kecamatan Wih Pesa
NASIONAL
KATHMANDU Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan sekitar 45 warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Nepal dalam kondisi aman. H
INTERNASIONAL
JAKARTA Pengamat politik Hendri Satrio menilai gelaran Merdeka Run 2026 yang diikuti lebih dari 12.000 peserta merupakan bentuk komunikasi
NASIONAL
JAKARTA Kejaksaan Agung (Kejagung) menyita aset senilai sekitar Rp338,3 miliar dalam kasus dugaan korupsi izin usaha pertambangan (IUP) PT
NASIONAL