Saat musim hujan, debit sungai meluap membawa lumpur dan sampah kayu, sedangkan di musim kemarau, sungai tampak dangkal dan keruh.
"Kondisi ini sangat memprihatinkan. Batangtoru dulu dikenal dengan kelestariannya dan sungai sebagai 'cermin alam', kini hutan hilang, sungainya kumuh. Ancaman bencana ekologis kerap mengintai masyarakat," kata Hendra Hasibuan, Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Utara.
Ekosistem Batangtoru menjadi sumber kehidupan ribuan warga dari hulu hingga hilir dan rumah bagi satwa langka, seperti Orangutan Tapanuli dan Harimau Sumatera.
Namun aliran sungai kini dipenuhi sampah, limbah pertambangan, dan sisa banjir bandang, mempercepat erosi dan mengancam pemukiman serta lahan pertanian.
Ancaman paling nyata saat ini menimpa Jembatan Trikora. Longsor di bantaran Sungai Batangtoru akibat hujan deras mengikis penopang jembatan, berisiko memutus akses utama ekonomi dan pendidikan warga.
"Kami mendesak pemerintah turun langsung ke lapangan untuk memperkuat tebing sungai, normalisasi aliran, serta pemasangan beronjong agar jembatan tidak ambruk," ujar Hendra Hasibuan, yang juga Koordinator JAMM (Jaringan Advokasi Masyarakat Marjinal).
Jembatan Trikora menjadi simbol bersejarah Kabupaten Tapanuli Selatan sekaligus jalur vital bagi mobilitas ekonomi dan sosial masyarakat setempat. Masyarakat berharap langkah cepat pemerintah dapat mencegah potensi bencana susulan.*
(dh)
Editor
: Adam
Batangtoru Kritis: Pemerintah Diminta Normalisasi Sungai dan Stabilkan Jembatan Trikora