Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, mengikuti rapat daring yang dipimpin Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Sri Haryati, Senin (2/3/2026). (foto: Pemko Medan)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat daring yang dipimpin Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Sri Haryati, Senin (2/3/2026).
Rapat diikuti Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, didampingi Sekretaris Daerah Wiriya Alrahman dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah terkait.
Dalam pertemuan itu disampaikan, penetapan lokasi pembangunan akan dilakukan setelah kesiapan daerah dinyatakan memenuhi seluruh ketentuan.
Penetapan tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan tahapan program oleh pemerintah daerah.
Untuk tahun anggaran berjalan, kuota pembangunan yang tersedia baru satu tower. Pelaksanaan fisik direncanakan dimulai pada 2026 dan berpotensi berlanjut hingga 2027.
Rico Waas menyampaikan apresiasi atas dukungan kementerian dan memastikan dokumen yang masih diperlukan segera dilengkapi.
Ia menargetkan seluruh persyaratan dapat dirampungkan dalam waktu dekat agar proses penetapan lokasi tidak tertunda.
Selain pembangunan rusun baru, Pemko Medan juga menyoroti kondisi sejumlah aset rusun lama.
Salah satunya Tower D yang dibangun melalui APBN 2016 dengan sekitar 90 unit dalam kondisi rusak berat dan belum dihuni karena belum dilakukan serah terima aset kepada pemerintah daerah.
Pemko Medan meminta dukungan kementerian agar proses berita acara serah terima dapat segera dituntaskan sehingga aset tersebut dapat dimanfaatkan atau direvitalisasi.
Pihak kementerian menjelaskan, saat ini masih berlangsung proses identifikasi dan penataan aset antar kementerian untuk memastikan status kepemilikan sebelum serah terima dilanjutkan.
Namun pada tahun anggaran 2026, alokasi program masih difokuskan pada pembangunan rusun baru dan belum mencakup revitalisasi.
Dalam rapat tersebut, Pemko Medan juga memaparkan tingkat keterisian rusun yang telah ada, berkisar 50 hingga 85 persen.
Mayoritas penghuni merupakan nelayan di wilayah utara kota. Sebagian warga masih enggan menempati rusun karena mempertimbangkan jarak dari lokasi mata pencaharian.
Ke depan, pemerintah kota mengusulkan segmentasi penghuni yang lebih beragam, termasuk tenaga pendidik, tenaga kesehatan, serta warga terdampak banjir, guna meningkatkan optimalisasi hunian.
Pemko Medan menegaskan komitmen untuk terus berkoordinasi dengan kementerian dan perangkat daerah terkait agar pembangunan rusun di Seruwai dapat segera memasuki tahap pelaksanaan.*