Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution didampingi Kepala Dinas Pendidikan Sumut Alexander Sinulingga, melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA, SMK, dan SLB provinsi Sumut tahun 2025 di SMA Negeri 1 Medan
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
SUMATERA UTARA- Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menjadikan Kepulauan Nias sebagai wilayah pertama penerima Program Unggulan Bersekolah Gratis (PUBG) pada tahun ajaran 2026/2027.
Kebijakan ini menandai langkah awal Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution dalam memperluas akses pendidikan melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), terutama bagi daerah dengan tantangan geografis dan sosial-ekonomi paling berat.
Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Alexander Sinulingga, mengatakan pemilihan Nias sebagai zona prioritas bukan tanpa alasan.
Tingginya angka putus sekolah, keterbatasan sarana pendidikan, serta kondisi kemiskinan menjadi pertimbangan utama pemerintah provinsi.
"Ini komitmen Pak Gubernur untuk menghidupkan kembali wilayah kepulauan yang selama ini jauh tertinggal," ujar Alexander, Selasa, 25 November 2025.
Data Kementerian Pendidikan tahun 2022 menunjukkan 490 anak di Kepulauan Nias tercatat putus sekolah, sementara 50 sekolah dalam kondisi rusak.
Ketimpangan pendidikan inilah yang ingin ditekan melalui PUBG, yang memastikan siswa SMA/SMK/SLB Negeri tidak lagi membayar SPP.
PUBG merupakan bagian dari strategi fiskal pendidikan PHTC untuk menghapuskan pungutan biaya yang masih terjadi di sekolah menengah.
Alexander menjelaskan bahwa kajian akademis program tersebut sudah mencapai 75 persen dan ditargetkan rampung pada akhir November atau awal Desember.
Kajian ini menentukan model pembiayaan yang akan dipakai, apakah melalui klasterisasi wilayah atau berdasarkan data eksisting penerima SPP.
"Model mana yang dipilih akan diputuskan setelah kajian akademik selesai," katanya.
Pada penerapan pertama di Nias, pemerintah menargetkan 41.876 siswa menjadi penerima manfaat dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp21,48 miliar per semester.