Sekitar 30 peserta hadir, mewakili berbagai instansi, mulai dari Kesbangpol Jawa Barat, Polda Jabar, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, hingga mantan narapidana terorisme di Shakti Hotel Bandung, Rabu (3/12/2025). (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
BANDUNG – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2025, Prabu Foundation menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Penguatan Nilai, Karakter Toleran, Pengawasan Media Sosial, dan Peran Keluarga serta Sekolah dalam Mencegah Radikalisme Anak Menjelang Nataru 2025" di Shakti Hotel Bandung, Rabu (3/12/2025).
Sekitar 30 peserta hadir, mewakili berbagai instansi, mulai dari Kesbangpol Jawa Barat, Polda Jabar, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, hingga mantan narapidana terorisme.
Acara dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan sambutan Ketua Umum Prabu Foundation, Asep Muhargono, sebelum memasuki sesi materi.
Khoirul Naim dari Kesbangpol Jawa Barat menekankan pentingnya memperkuat ketahanan masyarakat terhadap radikalisme di era digital.
"Penguatan harmoni sosial harus dilakukan melalui sistem peringatan dini dan pemberdayaan masyarakat," ujarnya.
Dari Polda Jabar, AKBP Rumi menyoroti pentingnya keterlibatan semua pihak dalam menjaga ruang digital.
"Pengawasan media sosial dan literasi digital sangat penting. Keluarga dan sekolah harus aktif agar paham radikal tidak mudah menyusup ke anak-anak," katanya.
Roki Apris Dianto, mantan narapidana terorisme, membagikan pengalaman pribadi mengenai bagaimana anak-anak dan remaja menjadi target jaringan radikal.
"Kelompok radikal pandai mencari celah. Pengawasan pergaulan dan aktivitas online adalah kunci pencegahan," tegasnya.
Dr. Iwan Sanusi dari Dinas Pendidikan Jawa Barat menambahkan bahwa pendidikan karakter menjadi benteng penting.
"Nilai-nilai Pancawaluya seperti cageur, bageur, bener, pinter, dan singer harus ditanamkan sejak dini agar anak memiliki karakter kuat dan tidak mudah terpengaruh ideologi berbahaya," jelasnya.
Hari Teguh dari Kementerian Agama menekankan peran aktif masyarakat dalam menjaga kerukunan.
"Sikap terbuka, saling menghargai, dan pengawasan konten digital harus diperkuat agar paham negatif tidak berkembang," ujarnya.
FGD yang berlangsung hingga pukul 12.36 WIB ini diharapkan mampu merumuskan strategi bersama dalam mencegah radikalisme pada anak dan remaja, khususnya menjelang periode akhir tahun yang kerap menjadi momentum sensitif bagi penyebaran paham ekstrem.*