BREAKING NEWS
Kamis, 26 Maret 2026

Ramai Pembahasan soal Selat Muria Muncul Lagi, Usai Hilang 300 Tahun

BITVonline.com - Sabtu, 23 Maret 2024 06:18 WIB
Ramai Pembahasan soal Selat Muria Muncul Lagi, Usai Hilang 300 Tahun
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

DEMAK -Wilayah Demak, Pati, dan Kudus di Jawa Tengah telah menjadi sorotan nasional, bukan hanya karena banjir bandang yang melanda, tetapi juga karena munculnya teori menarik mengenai kembalinya Selat Muria setelah menghilang selama 300 tahun. Pembahasan mengenai fenomena ini meramaikan jagat media sosial setelah akun Sam Elqudsy @nuruzzaman2 mengungkap potensi hubungan antara banjir di wilayah tersebut dan munculnya kembali Selat Muria.

Selat Muria, yang dulunya menjadi jalur strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Muria, kini kembali mencuri perhatian. Foto citra masa lalu Selat Muria pada abad ke-7 M dan abad ke-16 M, ternyata memiliki pola aliran yang hampir identik dengan citra satelit banjir Demak tahun 2024. Para pakar geologi, seperti Eko Soebowo dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa meskipun penurunan tanah di wilayah tersebut memang mungkin terjadi, penyebab pasti dari fenomena ini tidak dapat diatribusikan langsung kepada banjir saat ini.

Melacak Jejak Kehadiran: Selat Muria yang Hilang dan Pulau Muria yang Abadi Selat Muria, sungguh suatu perjalanan melalui masa lalu, memisahkan daratan Pegunungan Kendeng di utara Jawa Tengah dengan megahnya Gunung Muria di tengah Pulau Muria. Tidak hanya Gunung Muria yang menjadi saksi bisu, melainkan perbukitan Patiayam juga turut menyaksikan riwayat panjang Selat Muria. Tetapi, seiring berjalannya waktu, Selat Muria perlahan menyusut, merangkak menuju kemunculan kembali sebagai daratan. Jalur Dagang dan Sejarah yang Terlupakan Selat Muria bukan semata menjadi jalur perdagangan, tetapi sebuah warisan sejarah yang kini tengah diangkat kembali dari kedalaman. Kota perdagangan Demak dan Nusantara, seolah menari di benak para pedagang yang merambah Selat Muria sebagai jalan pintas menuju kesuksesan. Berbagai komoditas bernilai tukar tinggi seperti beras, garam, hingga pakaian, menjadi saksi bisu kejayaan perdagangan yang melewati Selat Muria. Galangan Kapal: Saksi Bisu Kehidupan Laut yang Bersemi Selat Muria bukanlah sekadar jalur perdagangan, namun juga ladang subur bagi pembuatan kapal. Galangan kapal di tepi Selat Muria menjadi tempat di mana kapal-kapal Jung Jawa, megah berlayar dengan kayu jati sebagai jantungnya. Dari Pegunungan Kendeng, suara palu dan gergaji mengisi hiruk pikuk, menciptakan jejak sejarah yang tak terlupakan. Misteri Pendangkalan dan Kehilangan: Selat Muria yang Meredup Namun, seperti kisah-kisah kuno yang terlupakan, Selat Muria pun perlahan meredup. Proses sedimentasi, seperti pelancongan masa yang tak terelakkan, membuat Selat Muria menyempit. Dataran pantai Semarang dan Demak, seolah menarik diri ke utara, meninggalkan jejak-jejak berharga dalam helaian sejarah. Jejak Sejarah yang Tersisa: Menelusuri Legenda yang Bersemi Jejak Selat Muria kini bisa disusuri melalui sungai-sungai kecil dan situs-situs sejarah. Sungai Kalilondo dan Sungai Silugunggo, mengalir sebagai saksi bisu perjalanan panjang Selat Muria. Sementara situs Medang di Grobogan dan fosil-fosil hewan laut di Patiayam, menjadi potongan-potongan puzzle yang terjaga dalam memori kolektif.

Kisah Selat Muria, seperti halnya air yang mengalir dalam sungai sejarah, kembali mengalir dalam benak kita. Muncul dari kedalaman waktu, membawa dengan dirinya pesan-pesan masa lalu yang terlupakan. Suatu cerita yang memutar balikkan mata waktu, mengajak kita untuk menelusuri jejak-jejak yang kini muncul kembali dari takdirnya yang terlupakan.

(K/09)

0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru