SUMATERA BARAT- Delapan ton ikan nila mati mendadak di keramba jaring apung (KJA) Danau Maninjau akibat curah hujan tinggi disertai angin kencang yang melanda wilayah itu beberapa hari terakhir.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam, Rosva Deswira, mengatakan kematian ikan terjadi di 12 petak keramba milik petani di Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya. "Kerugian sementara mencapai sekitar Rp200 juta, dengan harga ikan Rp25 ribu per kilogram," ujarnya, Kamis (27/11).
Penyebab kematian diperkirakan akibat pembalikan air dasar ke permukaan danau, yang mengurangi kadar oksigen.
"Sebelum mati, ikan terlihat pusing dan naik ke permukaan untuk mencari oksigen," tambah Rosva.
Petugas masih melakukan pendataan untuk memastikan total kerugian, jumlah kematian ikan, pemilik keramba, dan lokasi terdampak, yang cukup sulit dijangkau karena beberapa akses jalan tertutup tanah longsor.
Rosva mengimbau petani agar mewaspadai cuaca ekstrem.
"Segera panen ikan yang siap, pindahkan ikan yang belum siap panen ke kolam air tenang, dan jangan menebar benih baru hingga kondisi danau aman. Penting juga untuk tidak membuang bangkai ikan ke danau agar kerugian tidak bertambah," jelasnya.
Peristiwa ini menjadi peringatan bagi seluruh pembudidaya ikan di Danau Maninjau untuk selalu memantau cuaca dan menyiapkan langkah mitigasi menghadapi cuaca ekstrem.*
(v/um)
Editor
: Adelia Syafitri
Hujan Deras dan Angin Kencang, Delapan Ton Ikan Nila di Danau Maninjau Mati