Kawal Proyek Peta Dasar Rp 4,7 Triliun BIG dari Bank Dunia, Kejagung Pasang Badan Mencegah Korupsi
JAKARTA Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Intelijen (JAMIntel) Reda Manthovani bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) mengawal p
NASIONAL
JAKARTA - Penurunan muka air Danau Toba menjadi perhatian serius. Data satelit altimetri menunjukkan penurunan sekitar 1,6 meter dalam periode Juni 2025 hingga Maret 2026.
Ahli Penginderaan Jauh Satelit dari IPB University, Jonson Lumban Gaol, menyebut penurunan muka air berpotensi mencapai 2 meter saat puncak musim kemarau.
Menurutnya, kondisi ini dapat berdampak serius terhadap sektor perikanan budi daya, khususnya di keramba jaring apung (KJA).Baca Juga:
"Kombinasi ini dapat memicu musim kering berkepanjangan di kawasan Danau Toba yang pada akhirnya mempercepat penyusutan volume air danau dan berpotensi menyebabkan kematian massal ikan," ujarnya, dikutipSenin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, penurunan muka air bukan menjadi penyebab langsung kematian ikan, melainkan faktor pemicu terjadinya pencampuran massa air saat cuaca ekstrem dan angin kencang.
Dalam kondisi perairan dangkal, angin kencang dapat mengaduk sedimen limbah organik di dasar danau hingga naik ke permukaan. Kondisi ini dapat menyumbat insang ikan dan menurunkan kadar oksigen terlarut secara drastis.
"Air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke atas, menyebabkan ikan di KJA mati," jelasnya.
Selain itu, penumpukan limbah organik dan rumah tangga juga memperparah kondisi. Jika kadar oksigen menurun, proses penguraian berubah menjadi anaerobik dan menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana.
Kombinasi rendahnya oksigen, meningkatnya gas beracun, serta tingginya kekeruhan air disebut menjadi penyebab utama kematian massal ikan di Danau Toba.
Fenomena serupa sebelumnya pernah terjadi pada 2016, saat ribuan ton ikan mati akibat penurunan muka air hingga 2 meter. Kejadian tersebut kembali berulang pada 2018, 2020, dan 2023 meski dalam skala lebih kecil.
Menghadapi kondisi ini, Jonson mengimbau para nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat muncul tanda-tanda cuaca ekstrem seperti angin kencang dan perubahan warna air menjadi keruh.
Ia juga menyarankan agar keramba jaring apung dipindahkan jika kondisi perairan mulai tidak stabil.
JAKARTA Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Intelijen (JAMIntel) Reda Manthovani bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) mengawal p
NASIONAL
JAKARTA Akademisi Rocky Gerung menyoroti gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) terkait syarat pendidikan pencalonan Gibran Rakab
POLITIK
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan pelestarian budaya dan cagar budaya merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya,
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengapresiasi inovasi sosial yang digagas Kecamatan Medan Denai melalui program ANJELI dan K
PEMERINTAHAN
MEDAN Kualitas udara di Kota Medan dilaporkan memburuk akibat sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera Utara. Wali Kota Medan Rico Waas me
KESEHATAN
BANDA ACEH Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Aceh memperkuat komitmen memberikan pelayanan yang semakin humanis dan profesional kep
PERISTIWA
MEDAN Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) memasok beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Minyakita dalam keg
EKONOMI
JAKARTA PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM meraih delapan penghargaan dalam ajang Environmental and Social Innovation Awar
NASIONAL
MEDAN Ketua Umum Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) Adardam Achyar mempertanyakan pemidanaan terhadap surat yang dibuat advokat dalam menjal
POLITIK
MANDAILING NATAL Foto mobil dinas Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) digunakan untuk mengangkut
PERISTIWA