BREAKING NEWS
Jumat, 19 Juni 2026

Muka Air Danau Toba Turun 1,6 Meter, Pakar IPB Wanti-wanti Ikan Mati Massal

Dharma - Senin, 27 April 2026 07:34 WIB
Muka Air Danau Toba Turun 1,6 Meter, Pakar IPB Wanti-wanti Ikan Mati Massal
Pemandangan Danau Toba dilihat dari Pulau Samosir. (Foto: wikipedia)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Penurunan muka air Danau Toba menjadi perhatian serius. Data satelit altimetri menunjukkan penurunan sekitar 1,6 meter dalam periode Juni 2025 hingga Maret 2026.

Ahli Penginderaan Jauh Satelit dari IPB University, Jonson Lumban Gaol, menyebut penurunan muka air berpotensi mencapai 2 meter saat puncak musim kemarau.

Menurutnya, kondisi ini dapat berdampak serius terhadap sektor perikanan budi daya, khususnya di keramba jaring apung (KJA).

Baca Juga:

"Kombinasi ini dapat memicu musim kering berkepanjangan di kawasan Danau Toba yang pada akhirnya mempercepat penyusutan volume air danau dan berpotensi menyebabkan kematian massal ikan," ujarnya, dikutipSenin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, penurunan muka air bukan menjadi penyebab langsung kematian ikan, melainkan faktor pemicu terjadinya pencampuran massa air saat cuaca ekstrem dan angin kencang.

Dalam kondisi perairan dangkal, angin kencang dapat mengaduk sedimen limbah organik di dasar danau hingga naik ke permukaan. Kondisi ini dapat menyumbat insang ikan dan menurunkan kadar oksigen terlarut secara drastis.

"Air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke atas, menyebabkan ikan di KJA mati," jelasnya.

Selain itu, penumpukan limbah organik dan rumah tangga juga memperparah kondisi. Jika kadar oksigen menurun, proses penguraian berubah menjadi anaerobik dan menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana.

Kombinasi rendahnya oksigen, meningkatnya gas beracun, serta tingginya kekeruhan air disebut menjadi penyebab utama kematian massal ikan di Danau Toba.

Fenomena serupa sebelumnya pernah terjadi pada 2016, saat ribuan ton ikan mati akibat penurunan muka air hingga 2 meter. Kejadian tersebut kembali berulang pada 2018, 2020, dan 2023 meski dalam skala lebih kecil.

Menghadapi kondisi ini, Jonson mengimbau para nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat muncul tanda-tanda cuaca ekstrem seperti angin kencang dan perubahan warna air menjadi keruh.

Ia juga menyarankan agar keramba jaring apung dipindahkan jika kondisi perairan mulai tidak stabil.

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Cegah Kecelakaan Mudik 2026, Kemnaker Periksa Kesehatan dan Kelelahan Pengemudi di 6 Kota
Pokja PAUD Simalungun Gelar Parenting Education, Bentuk Generasi Unggul Berkarakter
Serius Bidik WBK 2026, Lapas Labuhan Ruku Saring Ketat Tim Pokja Zona Integritas
Pokja PWI Jakarta Timur Luncurkan Program SINERGI, Perkuat Peran Wartawan dalam Masyarakat dan Pemerintah
Pokja Bunda PAUD Simalungun Kunjungi Rumah Dinas Bupati, Perkuat Ketahanan Pangan
Eks Bupati Mempawah Jadi Sorotan KPK dalam Kasus Proyek Jalan 2015
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru