BREAKING NEWS
Minggu, 21 Juni 2026

Ini Alasan Mahasiswa UGM Lakukan Aksi Penggerudukan Diskusi hingga Berujung Ricuh

Dharma - Selasa, 16 Juni 2026 10:10 WIB
Ini Alasan Mahasiswa UGM Lakukan Aksi Penggerudukan Diskusi hingga Berujung Ricuh
Mahasiswa terlibat aksi penggerudukan diskusi bertajuk “Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini” di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, Senin (15/6/2026) malam. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

YOGYAKARTA - Mahasiswa yang terlibat dalam aksi penggerudukan diskusi bertajuk "Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini" di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (15/6/2026) malam, menyampaikan alasan di balik tindakan mereka.

Salah satu mahasiswa, Mesa dari Senat Mahasiswa (Sema) UGM, menyebut aksi tersebut sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya membuka ruang bagi kebebasan berpendapat.

Ia menilai, selama kritik dianggap sebagai gangguan dan suara rakyat masih dibatasi, maka pejabat publik tidak semestinya berbicara tentang nilai-nilai Pancasila.

Baca Juga:

"Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat, program MBG, Kopdes Merah Putih, dan banyak hal yang sekarang terjadi, perihal kondisi ekonomi," kata Mesa.

Meski aksi tersebut memicu ketegangan di lokasi acara, Mesa menilai gesekan antara mahasiswa dan aparat atau pejabat dalam ruang demokrasi adalah hal yang wajar.

Menurutnya, kritik tidak cukup hanya disampaikan dalam forum resmi, tetapi perlu juga disuarakan langsung kepada para pengambil kebijakan.

"Gesekan-gesekan yang terjadi tadi justru memang hal yang wajar dalam negara demokrasi, yang saat ini justru mereka tidak hanya bisa dibisiki, tapi memang harus diteriaki, mereka memang harus didatangi karena tidak ada cara yang efektif selain cara itu. Bahkan ketika itu dilakukan, tidak ada jaminan bahwa mereka merasa bersalah," ujarnya.

Diskusi yang menghadirkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono itu sempat berlangsung tidak kondusif.

Ketegangan meningkat setelah sejumlah mahasiswa naik ke panggung dan menyuarakan kritik secara langsung. Situasi kemudian membuat ketiga pejabat tersebut dievakuasi oleh pihak keamanan.

Namun, menurut keterangan mahasiswa, insiden kejar-kejaran terjadi karena pejabat disebut meninggalkan lokasi saat mahasiswa ingin menyampaikan pertanyaan secara langsung.

"Aksi kejar-kejaran itu sebetulnya karena mereka menghindar. Kami tidak akan mengejar-ngejar mereka seandainya mereka menjawab satu pertanyaan sederhana saya apakah mereka merasa bersalah?," kata Mesa.

Di sisi lain, para pejabat yang hadir membantah anggapan bahwa mereka meninggalkan lokasi karena menghindari dialog.

Editor
: Johan
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Mahfud MD: Indonesia Bukan Milik Kelompok atau Partai, tapi Seluruh Rakyat
Mencari Budiman Sudjatmiko
Pemerintah Aceh dan DPR Sepakat Fokus Kewenangan dan Fiskal dalam Revisi UUPA
Terima 15 Perwakilan Mahasiswa di Istana Wapres, Gibran: Saya Sadar Program Pemerintah Masih Banyak Minusnya
Forum Diskusi di UGM Berakhir Ricuh, Budiman Sudjatmiko: Kesannya Mahasiswa Menolak Audiensi
Anggaran Revitalisasi Sekolah Rp14 Triliun Dinilai Masih Terlalu Kecil, JPPI: Hanya Rp197 Juta per Sekolah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru