BREAKING NEWS
Minggu, 06 September 2026

Korban Keracunan MBG di Berastagi Kembali Dirawat, Ada yang Alami Gangguan Ginjal hingga Saraf Kepala

Johan - Sabtu, 05 September 2026 21:30 WIB
Korban Keracunan MBG di Berastagi Kembali Dirawat, Ada yang Alami Gangguan Ginjal hingga Saraf Kepala
Feby br Purba, siswi keracunan MBG kembali mendapat perawatan medis karena racun jamur masuk ke saraf kepalanya. (FOTO: Dok. keluarga)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

KARO – Penderitaan siswa yang menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, belum berakhir.

Sejumlah siswa yang sebelumnya menjalani perawatan dan telah diperbolehkan pulang justru kembali mengalami gangguan kesehatan.

Kondisi sebagian korban bahkan disebut lebih memprihatinkan.

Baca Juga:

Mereka harus menjalani pemeriksaan lanjutan dan perawatan secara intensif.

Berdasarkan keterangan keluarga, hasil pemeriksaan dokter menemukan sejumlah gangguan kesehatan, mulai dari paparan racun jamur yang disebut menyerang saraf kepala hingga gangguan ginjal dan jantung.

Salah satu siswa yang kembali menjalani pemeriksaan adalah Feby br Purba. Siswi tersebut diperiksa di RSUP H. Adam Malik Medan.

Ayah Feby, Bang Purba, mengatakan hasil pemeriksaan dokter menunjukkan adanya temuan yang berkaitan dengan racun jamur pada bagian saraf kepala anaknya.

"Menurut pemeriksaan dokter di Adam Malik, hasilnya ada racun jamur di saraf kepala anak saya," ujar Bang Purba, ayah dari Feby.

Kondisi tersebut membuat Feby harus menjalani kontrol secara berkala. Menurut keluarga, dokter menyarankan pemantauan kesehatan selama enam bulan hingga satu tahun.

"Ada empat dokter yang memeriksa. Saya tak hafal namanya. Kata dokter anak saya harus kontrol sampai enam bulan hingga satu tahun. ,"katanya pada wartawan, Sabtu (5/9) sore.

Keterangan tersebut membuat keluarga Feby syok dan panik. Mereka mengaku khawatir dengan kondisi kesehatan Feby ke depan.

"Bagaimana lagilah nasib kami ini?" lirihnya.

Gangguan kesehatan juga dialami siswi lainnya, Agnesia P br Silitonga.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di RS Efarina, Agnesia disebut mengalami gangguan ginjal dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Ibu Agnesia, Fitriani br Sijabat, mengatakan kondisi kesehatan putrinya kembali memburuk beberapa hari lalu. Agnesia kemudian dibawa kembali ke RS Efarina Berastagi.

Dari hasil pemeriksaan, dokter menyarankan agar Agnesia dirujuk ke rumah sakit di Medan untuk mendapatkan pemeriksaan dari dokter spesialis ginjal.

"Kata dokter, anak saya mengalami gangguan ginjal, hingga disarankan melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit di Medan," lirihnya.

Fitriani mengatakan kondisi keuangan keluarga saat ini juga menjadi persoalan.

Ia mengaku biaya pengobatan anaknya tidak lagi ditanggung seperti ketika menjalani perawatan pertama setelah kejadian keracunan MBG.

Keluhan serupa dialami korban lain, Karissa Zefania br Aritonang. Menurut keluarga, Karissa didiagnosis mengalami gangguan jantung.

Keluarga mengatakan dokter menyebut gangguan jantung tersebut memang telah dialami Karissa sebelumnya.

Namun, kondisi itu disebut semakin parah setelah kejadian keracunan MBG.

"Menurut pemeriksaan dokter, sakit jantung anak kita ini memang sudah ada sebelumnya. Keracunan MBG itu membuat sakit jantungnya kambuh dan makin parah. Makanya saat kena racun MBG kemarin, anak kita langsung sesak teris," ujar orangtua korban.

Karissa kemudian menjalani pemeriksaan oleh dokter jantung di RS Amanda dan mendapat perawatan selama tiga hari.

Karena kondisinya belum membaik, keluarga meminta rujukan untuk melanjutkan pemeriksaan di RSUP H. Adam Malik Medan.

"Besok (Minggu) kami ke Medan. Rencananya Senin anak kita mau ditangani dokter jantung. Mohon doa kita semua, semoga anak kita kembali sehat," harapnya.

Persoalan kesehatan para siswa korban keracunan MBG di Berastagi juga akan dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat atau RDP di DPRD Kabupaten Karo pada Senin, 7 September 2026.

Kuasa hukum para korban, Rubianto Sembiring SH, MH, Juliadi Kaban SH MH, Ronald Sitepu SH, dan Diego Manik SH, mengundang seluruh orang tua siswa untuk hadir dalam rapat tersebut.

Kuasa hukum mengaku prihatin karena hingga kini sejumlah korban masih harus bolak-balik ke rumah sakit.

Beberapa siswa bahkan harus kembali dirujuk ke rumah sakit di Medan.

"Saya, Juliadi Kaban, SH, MH mewakili kuasa hukum, mengundang seluruh orang tua korban untuk berkumpul di DPRD Karo dan sama-sama menghadiri RDP yang dilakukan pada Senin ini," ajaknya.

Menurut kuasa hukum, RDP tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membahas kondisi para korban bersama DPRD dan pihak terkait sekaligus mencari solusi mengenai kelanjutan pengobatan.

"Di sana kita akan berdiskusi dan mencari solusi bagaimana menangani dan kelanjutan pengobatan para siswa yang menjadi korban keracunan MBG," katanya.

Polres Karo menyatakan telah melakukan penyelidikan sejak awal kasus keracunan yang dialami para siswa.

Kanit Tipiter Polres Karo Ipda Martan Sitepu mengatakan polisi telah memeriksa sejumlah pihak.

Mereka yang diperiksa antara lain pelajar, guru, pihak SPPG, dokter, serta pihak terkait lainnya. Polisi juga menelusuri hasil pemeriksaan laboratorium.

"Dari awal kejadian kami sudah melakukan penyelidikan. Karena tak kunjung ada pelapor, kami masukkan laporannya dalam model A," kata Martan belum lama ini.

Polres Karo kemudian menerima pengaduan resmi dari orang tua siswa.

Pengaduan tersebut tercatat dalam LP/B/395/VI/2026/SPKT/PO dengan Fitriani Sijabat sebagai pelapor.

Dalam pengaduan tersebut, Fitriani melaporkan dugaan tindak pidana kelalaian yang mengakibatkan orang luka.

Laporan itu mencantumkan sejumlah pasal dalam UU Nomor 1 Tahun 2023 serta ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pangan.

Sejumlah pihak disebut dalam pengaduan tersebut, di antaranya Kepala Sekolah Yayasan Bersama, Kepala SMA Negeri 1 Berastagi, Dapur SPPG Karo Berastagi dan Sempa Jaya, serta Yayasan Manunggal Kartika Jaya.

Para orang tua berharap laporan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengungkap secara menyeluruh penyebab keracunan yang dialami para siswa.

Mereka juga berharap ada pertanggungjawaban hukum apabila dalam penyelidikan ditemukan unsur pidana.

Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan korban tidak berhenti setelah siswa mendapatkan perawatan awal.

Sejumlah keluarga kini masih menghadapi pemeriksaan lanjutan, rujukan ke rumah sakit di Medan, hingga persoalan biaya pengobatan.

Mereka berharap pemerintah memastikan kondisi kesehatan seluruh korban terus dipantau sampai para siswa benar-benar pulih.* (sp/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Penyerapan APBD Tapteng Baru 30 Persen, 5 Parpol Ultimatum Bupati Masinton: Berbenah atau Pemakzulan!
Viral Anak Disebut Tak Dapat Kamar di RSU Muhammadiyah Medan, Ini Penjelasan Dinkes
Zulhas Desak Evaluasi SPPG Kalitengah, Petugas Lalai Terancam Dipecat
Aktivitas Gunung Sinabung Masih Tinggi, Pengungsi Mulai Keluhkan Gangguan Kesehatan
Zulhas Tegaskan Tak Ada Toleransi SPPG Lalai, Pengiriman MBG Terlambat Bisa Picu Keracunan
Dibongkar Zulhas! 748 Santri Keracunan MBG di Sidoarjo Akibat Masak Pagi Dikirim Siang dan Penempatan Makanan Sembarangan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru