Regulasi EUDR mengharuskan seluruh produk berbasis karet berasal dari rantai pasok bebas deforestasi, yang menjadi tantangan tersendiri bagi industri karet Indonesia.
Menurut data Gapkindo, pada April 2025, Sumut mengekspor karet ke 31 negara.
Jepang menjadi tujuan utama dengan porsi 35,01%, disusul Amerika Serikat (15,53%), China (9,14%), Brasil (7,57%), dan Kanada (5,44%).
Ekspor ke 12 negara Eropa mengalami penurunan kontribusi, dari 12,73% di Maret menjadi 10,51% pada April.
Edy menegaskan, menghadapi tantangan ini, diperlukan kerja sama lintas pihak untuk memperkuat ketelusuran produk (traceability) dan praktik keberlanjutan.
"Untuk mempertahankan akses pasar global, terutama Eropa, kita perlu fokus pada traceability dan kepatuhan terhadap prinsip keberlanjutan. Pemerintah, pelaku industri, dan petani harus bergandengan tangan untuk memetakan kebun, meningkatkan praktik ramah lingkungan, serta memperbaiki sistem logistik dan produktivitas," tutupnya.*